Bacaini.ID, BLITAR – Anggota DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, menegaskan bahwa media bukan alat kekuasaan, melainkan mitra kritis yang berperan penting dalam mengawal jalannya demokrasi.
Pernyataan itu disampaikan saat sosialisasi di Kampung Cokelat Blitar, Jumat (20/2/2026), sebagai penegasan bahwa pers memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi, membangun literasi publik, serta menjadi pengawas kinerja lembaga negara.
Karenanya, bagi Jairi Irawan kritik konstruktif dari media massa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja. “Media bukan alat kekuasaan, tapi mitra kritis,” tegas Jairi Irawan Jumat malam (20/2/2026).
Baca Juga:
- Tirto Adhi Soerjo dan Kapan Hari Pers Nasional Sepatutnya Dirayakan
- Hari Pers Nasional 9 Februari Ternyata Warisan Orde Baru
Jairi Irawan merupakan politisi Partai Golongan Karya (Golkar) yang juga Sekretaris Komisi E DPRD Provinsi Jatim. Kelahiran 24 April 1986 itu juga dikenal sebagai mantan aktivis PMII dan IPPNU.
Sebagai wakil rakyat Jairi mengaku tidak alergi dengan kritik media massa. Bahkan ia merasa senang karena dengan begitu dirinya bisa melakukan perbaikan. Publik juga menjadi tahu terhadap kinerjanya.
“Jika ada beberapa kinerja saya yang tersorot (media) yang mungkin kurang baik, saya senang karena bisa ada perbaikan-perbaikan ke depannya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu Jairi Irawan juga mengatakan media massa memiliki posisi strategis sebagai pilar demokrasi. Bukan hanya menyampaikan informasi, tapi juga membangun literasi publik.
Ia melihat kolaborasi antara legislatif dan media massa menjadi hal yang penting. Khususnya dalam kaitan menyampaikan program-program pembangunan di masyarakat.
Jairi berharap hubungan pers dan legislatif dalam koridor profesionalisme dan independensi tetap terjaga. Pihaknya juga siap membantu dalam rangka meningkatkan kompetensi jurnalis.
“Peran media profesional sangat dibutuhkan untuk memastikan masyarakat mendapat informasi yang benar,” pungkasnya.
Penulis: Solichan Arif





