Bacaini.ID, KEDIRI – Pemerintah Kota Kediri merancang ulang Jembatan Brawijaya dengan sentuhan arsitektur modern, yang didominasi warna emas dan ornamen aksara kuadrat. Sayang, minimnya petunjuk yang tersedia membuat sebagian publik menduganya sebagai huruf Thailand.
Penempatan aksara Jawa Kuno peninggalan Kerajaan Kadiri atau aksara Kuadrat ini dilakukan dengan menggandeng arkeolog dan praktisi budaya. Bahkan penempatan aksara kuadrat ini bukan sekedar asal-asalan.
Kalimat-kalimat bermakna seperti “Bhinneka Tunggal Ika” dan semboyan “Djojo ing Bojo” diukir dalam aksara kuadrat dan dipasang pada pilar jembatan. Desain ini dihadirkan untuk memberi ruang publik yang tidak sekadar berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga ruang narasi budaya.
Namun, ketika unggahan resmi pemerintah muncul di Instagram @disbudparpora_kedirikota, reaksi publik justru jauh dari yang diharapkan. Banyak komentar menyebut aksara kuadrat itu sebagai huruf Thailand.
Fenomena ini bukan sekadar lucu-lucuan warganet, tetapi gejala serius dari sebuah persoalan besar, yakni makin asingnya masyarakat dengan warisan budaya sendiri.
Jejak Kediri yang Tersisa, Tapi Tak Terbaca
Mengapa masyarakat begitu mudah mengira aksara kuadrat sebagai huruf Thailand? Ada dua penyebab utama:
Minimnya paparan terhadap aksara daerah sendiri
Pejabat pemerintah sendiri mengakui bahwa aksara kuadrat “belum pernah diangkat” secara luas dan “tidak banyak dikenalkan kepada masyarakat.” Akibatnya, generasi kini tumbuh tanpa mengenali bentuk visual dari aksara kuno daerah mereka.
Dominasi budaya visual asing dalam keseharian
Masuk akal bahwa warganet lebih akrab dengan huruf Thai dari menu restoran, drama, atau perjalanan wisata. Dibandingkan aksara kuadrat yang nyaris tak muncul dalam ruang publik, huruf Thailand justru lebih sering mereka lihat.
Alhasil, kita kehilangan kemampuan mengenali simbol budaya sendiri, tapi fasih mengenali milik orang lain.
Revitalisasi Fisik Tidak Cukup Tanpa Revitalisasi Pengetahuan
Jembatan Brawijaya kini tampil megah dengan rona emas, tata cahaya artistik, dan ornamen bersejarah. Pemerintah menyebut desain ini sebagai simbol bahwa Kediri pernah mengalami masa kejayaan, dan ingin kembali menghidupkan spirit itu.
Namun, komentar-komentar publik memperlihatkan satu hal jelas, bahwa ornamen secantik apa pun tetap tidak bermakna jika tidak dipahami.
Revitalisasi infrastruktur seharusnya berjalan beriringan dengan revitalisasi literasi budaya. Tanpa itu, aksara kuadrat hanya akan menjadi dekorasi eksotis, bukan identitas.
Saatnya Mengembalikan Akar Identitas ke Ruang Publik
Fenomena salah kaprah ini sebenarnya bisa menjadi momentum. Pemerintah, komunitas budaya, dan warganet bisa memanfaatkannya untuk mendorong edukasi publik yang kreatif, lewat konten visual singkat, infografik, dan video penjelasan tentang aksara kuadrat.
Selain itu, papan informasi atau QR code di area jembatan yang menjelaskan arti dan sejarah aksara harus lebih ramah untuk pengendara kendaraan, bukan pejalan kaki.
Hal lain yang wajib ditempuh adalah integrasi sejarah aksara kuadrat dalam kurikulum lokal, setidaknya di tingkat SD–SMA. Didukung pula keterlibatan komunitas kreatif untuk menghadirkan aksara kuadrat dalam desain produk, mural, hingga font digital akan mempercepat pengenalan aksara Kuadrat sebagai identitas visual warga Kediri.
Penulis: Hari Tri Wasono





