Bacaini.ID, KEDIRI — PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mencatat sekitar 650.000 perempuan di Provinsi Lampung saat ini sebagai nasabah aktif program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Jumlah tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk diarahkan ke program perumahan subsidi maupun perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH).
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menyampaikan bahwa para nasabah Mekaar mayoritas tergolong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan pendapatan tidak tetap, namun telah mendapatkan pendampingan dan pembiayaan usaha ultra mikro.
“Per hari ini ada hampir 650.000 perempuan Lampung yang menjadi nasabah aktif PNM Mekaar,” ujar Arief dalam pertemuan bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal di Kantor Kementerian PKP, Jakarta, Jumat, 20 Februari 2026.
10 Tahun, PNM Jangkau Hampir 900.000 Nasabah di Lampung
Arief menjelaskan bahwa sepanjang satu dekade terakhir, penyaluran pembiayaan Mekaar di Lampung telah menjangkau mendekati 900.000 nasabah. Sebagian dari mereka mengalami peningkatan kapasitas usaha hingga naik kelas menjadi nasabah sektor perbankan.
“Selama 10 tahun ini, sekitar 2,5 juta nasabah Mekaar nasional sudah naik kelas ke BRI. Usaha mereka yang awalnya hanya untuk menambah pendapatan keluarga, kini mulai bergerak menuju skala semi komersial,” tuturnya.
Menurut dia, pertumbuhan pendapatan masyarakat menjadi faktor kunci agar MBR mampu mengakses hunian layak, termasuk rumah bersubsidi. Penerima rumah subsidi tetap membutuhkan dukungan pendapatan untuk melakukan renovasi atau perbaikan secara bertahap.
“Kalau sudah punya rumah bersubsidi, tentu perlu pendapatan tambahan untuk renovasi. Jadi aspek penguatan ekonomi sangat penting,” kata Arief.
Kebutuhan Hunian MBR di Lampung Capai 650.000 Unit
PNM memperkirakan terdapat sedikitnya 650.000 kebutuhan hunian dari nasabah Mekaar di Lampung, baik dalam bentuk permintaan rumah subsidi maupun kebutuhan perbaikan rumah warga.
Kebutuhan tersebut menggambarkan tingginya permintaan akan hunian layak di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah di daerah tersebut.
“Kami punya minimal 650.000 demand di Lampung, baik itu rumah subsidi atau rumah yang perlu diperbaiki. Kami sangat bersyukur bisa dilibatkan dalam tugas mulia membantu masyarakat mendapatkan hunian layak,” ucap Arief.
PNM menilai keterlibatan mereka dalam ekosistem perumahan dapat memperkuat sisi pemberdayaan ekonomi penerima manfaat, sekaligus mendukung program pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan rumah layak bagi MBR.
Penulis: Hari Tri Wasono





