Bacaini.ID, KEDIRI – Presiden Prabowo Subianto telah mengetahui identitas para perampok negara yang selama ini mengeruk keuntungan dari bangsa Indonesia secara biadab. Presiden dikabarkan tengah bersiap akan “menghabisi” mereka satu per satu.
Hal itu diungkapkan mantan Sekretaris Kementerian BUMN Mohammad Said Didu dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang ditayangkan di platform YouTube, 15 Februari 2026.
Kepada Akbar, Said membocorkan semua materi percakapannya bersama empat aktivis dengan Presiden Prabowo. Mereka mengaku diterima Presiden untuk bertukar pikiran dalam membangun bangsa ke depan.
Menurut Said, berbagai hal dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk persoalan yang dihadapi Prabowo dalam pemerintahannya, sekaligus rencana penyelesaian yang tak pernah diketahui publik. Mulai dari reformasi Polri, Wakil Presiden Gibran Rakabumingraka, strategi “Solo” dalam membesarkan PSI, hingga penyelamatan kekayaan bangsa yang telah dirampok oligarki.
Isu terakhir paling mendapat porsi lebih dalam perbincangan tersebut, di mana Said menyebut jika Prabowo sudah mengetahui siapa saja yang telah merampok bangsa Indonesia sesungguhnya, dan bersiap memukul mereka jika tidak bertobat. “Presiden sekarang masuk dalam tahap to kill or to be killed (membunuh atau dibunuh),” kata Said Didu.
Ia lantas menyebut jika Prabowo sudah mengetahui praktik culas mereka dalam mencari keuntungan selama 30 tahun. Salah satunya adalah praktik “under invoice” atau merekayasa nilai ekspor dari angka yang sesungguhnya, dengan nilai keuntungan 1,2 trilyun dollar (setara 24.000 trilyun rupian).
“Singapore pernah menyebut impor mereka dari Indonesia senilai 50 juta dollar. Tetapi Indonesia menyatakan hanya 20 juta dollar. Itu belum termasuk praktik penyelundupan dan sebagainya,” kata Said Didu. Praktik ini dilakukan di sektor batu bara, nikel, dan CPO (minyak sawit mentah).
Diketahui kasus manipulasi ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang diklaim sebagai Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah sawit terjadi selama 2022–2024, melibatkan manipulasi kode HS untuk menghindari larangan ekspor dan memicu kerugian negara sekitar Rp14,3 triliun. Sebanyak 11 tersangka dari unsur Bea Cukai, Kemenperin, dan swasta ditetapkan terkait korupsi ini.
Modusnya, perusahaan sawit memanipulasi kode HS (Harmonized System) ekspor, mengekspor CPO dengan label POME (limbah cair kelapa sawit) untuk menghindari peraturan larangan atau pembatasan ekspor yang berlaku saat itu. “Itu kan kurang ajar,” kata Said Didu.
Praktik lain yang telah diketahui Prabowo adalah judi online dengan nilai keuntungan 12 milyar dollar, serta kebocoran di BUMN senilai 20 milyar dollar. Hal itu pula yang pada suatu kesempatan Presiden Prabowo sempat mengancam para mantan petinggi BUMN untuk bersiap menghadapi pemeriksaan Kejaksaan.
Menurut Said, hal itu baru diketahui Prabowo setelah menjadi presiden, hingga membuatnya marah besar sampai memukul meja.
Praktik itu telah melibatkan para konglomerat besar dan pejabat BUMN yang disebut sebagai oligarki.
Lantas apa yang direncakan Prabowo untuk menyelesaikan itu?
Menurut Said, Presiden Prabowo seperti sedang makan bubur panas yang dimulai dari pinggir. Presiden tidak mau terjadi revolusi. “Panggilan kepada konglomerat-konglomerat itu, mungkin, aku nasehatin kau, tapi kalau tidak bisa biar rakyat yang menghukum,” kata Said.
Baca ini: Momen 5 Naga Menghadap Prabowo dan Berjanji Dukung Program Pemerintah
Said mengakui, selama berada di dalam pemerintahan maupun di luar sebagai oposisi, hanya Prabowo satu-satunya presiden yang berani menyentuh oligarki. Hal itu membuat Said khawatir dan sempat mengingatkan Prabowo tentang konsekuensi yang dihadapi.
“Oligarki sedang kuat-kuatnya Bapak (Prabowo) ganggu. Saya yakin musuh-musuh yang dipelihara oligarki akan menjadi musuh Bapak semuanya. Sehingga Bapak tidak punya waktu lama. Kalau Bapak tidak menuntaskan ini, kalau mereka balik, maka Bapak yang akan terguling,” pesan Said kepada Prabowo.
Namun apa jawaban Prabowo? Ia mengatakan jika dirinya gagal memimpin bangsa ini, maka ia siap menghadapi hukuman oleh rakyat Indonesia.
Pada akhir percakapan, Akbar Faizal mengatakan jika Presiden Prabowo sangat mengetahui cara menghadapi oligarki dan membawa bangsa Indonesia lepas dari cengkeraman mereka.
Penulis: Hari Tri Wasono





