Bacaini.ID, KEDIRI – Istri sering ‘menolak’ seringkali menjadi beban para suami dan sekaligus masalah dalam pernikahan.
Suami merasa ditolak sementara istri merasa tidak dipahami. Seks yang seharusnya menjadi ruang intim justru berubah menjadi sumber jarak emosional.
Namun,apakah benar istri tidak lagi butuh bercinta? Atau mungkin ada faktor lain yang luput dipahami?
Baca Juga:
- Anggapan Pria Berbulu Punya Libido Tinggi Ternyata Bukan Mitos
- Manfaat Buah Durian, Ternyata Bisa Picu Libido dan Kesuburan
Psikologi modern menunjukkan bahwa pada banyak perempuan dorongan seksual tidak selalu muncul secara spontan. Ia sering bersifat responsif, muncul setelah ada rasa aman, koneksi emosional, dan kondisi mental yang mendukung.
Berikut penyebab paling umum kenapa perempuan menolak melayani kebutuhan biologis pasangannya, dan solusi yang bisa dilakukan tanpa tekanan.
Stres dan Kelelahan Mental
Salah satu penyebab paling besar turunnya libido wanita adalah stres. Penelitian dalam Journal of Sexual Medicine menemukan bahwa peningkatan hormon kortisol akibat stres berkorelasi dengan penurunan hasrat seksual pada perempuan.
Saat tubuh berada dalam mode ‘fight or flight’, sistem reproduksi bukan prioritas biologis. Ditambah dengan beban mental mengurus anak, pekerjaan rumah, apalagi bagi perempuan pekerja, tanggung jawab emosional keluarga, membuat banyak istri kelelahan bahkan sebelum malam tiba.
Studi dari University of Michigan juga menunjukkan bahwa tambahan satu jam tidur meningkatkan kemungkinan aktivitas seksual pada perempuan sebesar 14 persen keesokan harinya.
Artinya, tubuh yang lelah sulit merespon gairah. Hasrat bercinta telah meredup. Jika hal itu yang terjadi, ini yang harus dilakukan suami.
• Kurangi beban mental istri, bukan hanya bantu sesekali.
• Pastikan ia punya waktu istirahat yang cukup.
• Jangan jadikan malam hari sebagai ‘jam bermesraan’ ketika ia sudah habis energi.
Foreplay dimulai dari pembagian tanggung jawab, bukan hanya sentuhan.
Merasa Tidak Dihargai Secara Emosional
Banyak pria mengira libido wanita hanya soal fisik. Padahal, bagi banyak perempuan, koneksi emosional adalah fondasi gairah.
Sebuah penelitian dari University of Toronto dan University of Kentucky menunjukkan bahwa perempuan yang merasa pasangannya responsif, yakni mendengar, memahami, dan memvalidasi, memiliki kepuasan seksual lebih tinggi dalam hubungan jangka panjang.
Jika dalam keseharian ia merasa diabaikan, diremehkan, atau hanya dicari saat ingin berhubungan, wajar jika hasrat menurun. Jika hal itu yang terjadi, ini yang harus dilakukan suami.
• Bangun koneksi di luar kamar tidur.
• Dengarkan setiap keluhan istri tanpa langsung memberi solusi.
• Berikan sentuhan tanpa agenda seksual.
Perempuan lebih mudah ingin ketika ia merasa diinginkan sebagai pribadi, bukan dituntut sebagai kewajiban.
Pola Gairah yang Berbeda
Menurut Rosemary Basson dalam Female Sexual Response Cycle, banyak perempuan memiliki pola gairah responsif, bukan spontan.
Artinya, mereka tidak selalu ‘ingin dulu baru mulai’. Justru sering kali keinginan muncul setelah ada kedekatan, rangsangan, dan suasana yang nyaman.
Sementara pria cenderung memiliki gairah spontan karena dipengaruhi testosteron. Mereka bisa langsung merasa siap tanpa konteks panjang.
Perbedaan ini sering disalahartikan sebagai penolakan pribadi. Jika ini yang terjadi, maka yang harus dilakukan para suami adalah sebagai berikut.
• Ciptakan suasana, bukan hanya ajakan.
• Jangan terburu-buru.
• Fokus pada kedekatan dulu, bukan target akhir.
Jika istri tidak menunjukkan hasrat spontan, bukan berarti ia tidak mencintai suaminya, namun hasrat seksualnya belum terbangkitkan.
Seks Terasa Sebagai Tuntutan
Doktrin agama yang menyatakan bahwa istri wajib melayani suami dan berdosa jika menolak, seringkali dipakai sebagai ‘senjata’ untuk melemahkan posisi perempuan secara instan.
Psikolog hubungan John Gottman menekankan bahwa tekanan dan kritik dalam hubungan merusak keintiman jangka panjang. Jika seks terasa seperti kewajiban atau evaluasi performa, otak akan mengasosiasikannya dengan stres.
Semakin ditekan, semakin menjauh. Istri akan semakin kehilangan gairahnya. Jika suami seringkali melakukan ini, segera hentikan dan gantikan dengan berikut ini.
• Hilangkan nada menyalahkan seperti ‘kamu selalu nolak’, ‘kamu berdosa’ dan lainnya.
• Ubah pendekatan dari menuntut menjadi mengundang.
• Bicarakan kebutuhan seksual secara terbuka tanpa defensif.
Penelitian dalam Journal of Marriage and Family menunjukkan bahwa pasangan yang mampu berdiskusi jujur soal kebutuhan seksual memiliki stabilitas hubungan lebih tinggi. Komunikasi bukan merusak gairah. Justru menyelamatkannya.
Tips Membangun Hubungan Emosional Agar Tak Ada Lagi Penolakan
Jika istri sering menolak bercinta, langkah paling efektif bukan meningkatkan tekanan, namun memperbaiki konteks.
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan para suami.
• Bangun koneksi emosional setiap hari.
• Kurangi beban mental dan fisik istri.
• Tingkatkan kualitas komunikasi.
• Pastikan istri merasa aman dan dihargai.
• Beri ruang bagi gairah untuk tumbuh alami.
Seks dalam pernikahan bukan sekadar soal frekuensi, namun hasil dari kualitas relasi. Ketika istri merasa didengar, dihargai, dan tidak dibebani, keinginan sering kali muncul dengan sendirinya.
Bagi banyak perempuan, seks bukanlah titik awal kedekatan, melainkan kelanjutan dari sebuah korelasi yang ada.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





