Bacaini.ID, KEDIRI – Menguasai opini publik lewat media massa menjadi salah satu kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) meraup suara besar di pemilihan umum 1955.
Hancur di tahun 1926 dan remuk lagi di tahun 1948 oleh peristiwa Madiun Affair, tidak membuat partai yang berbasis pada kekuatan massa buruh dan tani itu berkalang tanah.
Bahkan sejak tahun 1950-an PKI melesat tinggi ketika kepemimpinan tertinggi partai ditukangi oleh Triumvirat dari generasi lebih muda: DN Aidit, Njoto dan MH Lukman.
Bahkan sastrawan Iwan Simatupang yang secara ideologi jadi musuh PKI tak urung melontarkan pujiannya. Andai Aidit dan Njoto tidak di PKI, melainkan di PNI atau NU, jalan sejarah bangsa Indonesia akan berbeda.
“Sekiranyalah Aidit dan Njoto bukan di PKI, tapi misalnya di NU atau PNI, ya Allah: sejarah tanah air kita akan sangat berbeda, sangat berbeda,” demikian dikutip dari buku Surat Politik 1964-1966.
Di tangan Njoto yang menjabat sebagai sekjen CC PKI, agitasi proganda program partai dikobarkan. Penguasaan opini publik melalui kekuatan media massa dimaksimalkan.
Kalau berlangsung hari ini tentu bukan hanya media massa mainstream yang akan dikuasai. Seluruh opini publik di berbagai platform media sosial juga pasti direbut habis.
Baca Juga:
- Siapa Saja 7 Setan Desa Penindas dan Penghisap Kaum Tani?
- PKI Tumbuh Besar di Jawa Timur Bukan Karena Faktor Bung Karno
PKI memiliki koran Harian Rakyat untuk skup nasional. Berdiri tahun 1951, Harian Rakyat diakuisisi PKI tahun 1953 dari Siauw Giok Tjan, jurnalis senior Sunday Courier. Posisi Pimred Harian Rakyat dipegang oleh Njoto.
Harian Rakyat menerapkan gaya bahasa jurnalisme yang agitatif, yang dengan begitu mudah dimengerti rakyat yang sebagian besar masih berpendidikan rendah.
Familiar memakai diksi Ganyang, Kremus, Gebuk untuk menyerang lawan politik. Mempopulerkan diksi Kabir (Kapitalis Birokrat), 7 Setan Desa, 3 Setan Kota, Offensif Revolusioner dan Kontra Revolusi.
“Suatu ciri yang jelas dari jurnalisme mereka ialah melakukan penggiringan dengan membentuk opini publik untuk kepentingan PKI,” demikian dikutip dari buku Penyusupan PKI ke Dalam Media Massa Indonesia 1948-1965.
Njoto sejak awal meletakkan pondasi pentingnya hubungan atau relasi massa rakyat dengan pers atau media massa. Media massa menjadi alat agitasi dan propaganda partai.
Majalah Pertama PKI di Jawa Timur
PKI di wilayah Jawa Timur memiliki “afiliator” media massa. Sejumlah media massa berafiliasi dengan PKI. Kebijakan redaksionalnya memperjuangkan program politik PKI.
Salah satunya Majalah Suropati yang berkantor di Jalan Genteng Kali Surabaya. Sebuah pavilyun gedung kuno bekas milik seorang pengusaha Tionghoa kaya di masa kolonial Belanda.
Penerbitan majalah Suropati yang berformat kecil (18 x 22 cm) dipimpin Abdul Manan Adinda atau AM Adinda. Suropati yang berdiri pada tahun 1952 merupakan majalah PKI pertama di Jawa Timur.
AM Adinda juga merupakan desainer Brigade-29 Kediri yang bernama Biro Pendidikan Politik Tentara (Biro Pepolit). Brigade-29 Kediri adalah brigade militer yang berafiliasi ke PKI saat peristiwa Madiun 1948.
Majalah Suropati punya rubrik Sketsa. Kontennya selalu mengeritik pemerintah, peraturan-peraturan atau pelaksanaan peraturan yang tidak sejalan dengan politik PKI.
Pengaruh PKI melalui AM Adinda juga meluas ke Harian Trompet Masyarakat, yakni media massa yang berdiri di Surabaya.
Trompet Masjarakat yang bertagline Membawa Suara Kaum Kecil, Bebas dari Segala Pengaruh didirikan Goei Poo An pada 26 September 1947. Dengan gaya bahasa Melayu-China, Trompet Masjarakat sejak awal dikenal revolusiner.
AM Adinda di Trompet Masyarakat duduk sebagai redaktur utama sekaligus wakil pemimpin redaksi. Posisi pimpinan umum dan pimpinan redaksi diambil dipegang Goei Hok Gie, anak Goei Poo An.
Pada tahun 1962, Juki Abdul Azis, adik AM Adinda mendirikan Harian Jawa Timur. Media massa ini juga berafiliasi dengan PKI.
PKI terus menghimpun sebanyak-banyaknya opini publik dan kehidupan politik di Jawa Timur melalui kekuatan media massa. Gaya penulisan yang lugas, tajam sekaligus menohok, disukai rakyat.
Selain majalah Suropati dan harian Trompet Masyarakat, harian Jalan Rakyat, Mingguan Indonesia dan Mingguan Pemuda juga berafiliasi kepada PKI.
Semua perusahaan media di Jawa Timur yang berafiliasi dengan PKI memakai jasa percetakan kecil. Sebab percetakan besar dikuasai pemerintah di bawah kendali Pelaksana Penguasa Perang Daerah (Papelrada).
Sinergi antara agitasi propaganda media massa PKI dengan kerja politik turba (turun ke bawah) ke grass root, terbukti mengejutkan lawan-lawan politiknya di Pemilu 1955
Melalui agitasi dan propaganda di media massa, PKI menegaskan identitasnya sebagai Partai Rakyat. Sedangkan PNI disebutnya sebagai Partai Priyayi, dan Masyumi serta NU dikatakannya Partai Santri.
Penulis: Garendi





