Bacaini.ID, KEDIRI – Fenomena aurora yang terlihat di berbagai negara ramai jadi perbincangan di media sosial internasional.
Sebab selama ini aurora selalu identik dengan wilayah kutub dan kini beberapa kawasan bisa menikmati keindahan fenomena alam itu.
Warganet dari Eropa dan Amerika antusias membagikan foto-foto dan video penampakan aurora yang terlihat dalam berbagai warna.
Aurora dengan warna merah, magenta, hijau hingga ungu ramai dibagikan di media sosial dari sejumlah kawasan dunia dan memicu pertanyaan publik: apa yang sebenarnya sedang terjadi di langit Bumi?
Baca Juga: Fenomena Sinkhole di Sumbar, Viral dan Jadi Wisata Dadakan
Ini Sebab Aurora Terlihat di Berbagai Negara
Aurora yang muncul di tempat-tempat tak biasa seperti Portugal, Prancis, Amerika Serikat bagian selatan bahkan Australia beberapa hari terakhir, disebabkan oleh kombinasi peristiwa astronomi yang sangat kuat.
Fenomena ini bukan sekadar kejadian visual yang indah, melainkan berkaitan langsung dengan aktivitas Matahari yang sedang berada pada fase aktif.
Berikut penjelasan ilmiah mengenai kemunculan aurora yang terlihat di beberapa negara, menurut European Space Agency.
• Badai Radiasi Matahari Skala ‘S4’ (Severe)
Pada tanggal 18–19 Januari 2026, Matahari melepaskan suar kelas X1.9, salah satu yang terkuat, yang memicu badai radiasi matahari tingkat S4.
Ini adalah badai radiasi terkuat yang menghantam Bumi sejak tahun 2003.
• Semburan Massa Korona (CME) yang ‘Tepat Sasaran’
Matahari menyemburkan partikel plasma bermuatan tinggi yang disebut Coronal Mass Ejection (CME) langsung ke arah Bumi. Karena ledakan ini berlangsung selama hampir 7 jam, lebih lama dari biasanya, jumlah partikel yang dikirim sangat masif.
• Penembusan Medan Magnet Bumi
Biasanya medan magnet Bumi, magnetosfer, hanya mengarahkan partikel-partikel ini ke wilayah kutub.
Namun karena badai pada Januari 2026 memiliki energi yang sangat besar, termasuk badai geomagnetik tingkat G4/Severe, partikel-partikel tersebut mampu menembus lebih dalam ke atmosfer dan mendorong batas penampakan aurora jauh ke arah khatulistiwa (lintang menengah).
• Puncak Aktivitas Matahari (Solar Maximum)
Fenomena ini juga terjadi akibat Bumi berada di periode Solar Maximum dalam siklus 11 tahunan Matahari.
Pada fase ini, jumlah bintik matahari dan letusan energi berada di puncaknya, sehingga kemungkinan terjadinya aurora di lokasi tak terduga meningkat drastis hingga akhir tahun 2026.
Penampakan aurora yang terlihat jelas di beberapa negara tersebut didukung juga dengan kondisi langit yang sempurna.
Pada puncak badai tanggal 18 Januari, bertepatan dengan fase Bulan Baru, sehingga langit sangat gelap dan warna aurora tampak sangat kontras di lensa kamera.
Bahkan aurora warna merah yang dianggap langka dan sulit dilihat, dapat terlihat jelas.
Dampak Badai Matahari di Bumi
Tak hanya membawa keindahan aurora, badai Matahari yang terjadi secara masif hingga skala S4 (Severe), membuat penyedia layanan teknologi kelimpungan.
Dampak dari badai Matahari ini dapat berupa:
• Gangguan GPS dan Navigasi
Radiasi ekstrem mengganggu sinyal antara satelit dan Bumi. Ini menyebabkan error pada akurasi GPS hingga beberapa meter, yang sangat kritikal bagi navigasi pesawat terbang, kapal laut, hingga traktor pertanian otomatis yang mengandalkan presisi tinggi.
• Komunikasi Radio ‘Blackout’
Sinyal radio frekuensi tinggi (HF) yang digunakan oleh penerbangan internasional dan tim SAR dilaporkan mengalami pemadaman (blackout) di wilayah kutub dan sisi Bumi yang menghadap Matahari.
Hal ini memaksa beberapa maskapai penerbangan mengubah rute mereka menjauhi kutub.
• Ancaman pada Satelit
Partikel bermuatan tinggi meningkatkan gesekan di atmosfer atas, yang bisa menyeret satelit jatuh lebih rendah atau merusak komponen elektronik sensitif di dalamnya. Operator satelit pun harus bekerja ekstra untuk menjaga stabilitas orbit mereka.
• Risiko bagi Astronot
Para astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) harus masuk ke modul yang memiliki pelindung radiasi lebih tebal selama puncak badai untuk menghindari paparan radiasi yang berbahaya bagi kesehatan.
• Stabilitas Jaringan Listrik
Badai geomagnetik ini memicu arus liar pada kabel transmisi listrik jarak jauh. Perusahaan listrik harus memantau trafo mereka agar tidak terjadi overheating atau kebakaran.
Namun, fenomena aurora tahun ini menurut lembaga pemantau cuaca antariksa masih dalam batas aman dan tidak menimbulkan dampak teknologi yang signifikan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





