Bacaini.ID, KEDIRI — Nama Ratu Kalinyamat tercatat dalam arsip Portugis sebagai penguasa perempuan yang berani dan kaya. Dari Jepara dua kali mengirim armada laut raksasa untuk menggempur benteng Portugis di Malaka—membuat kekuatan Eropa ketar-ketir jauh sebelum VOC datang ke Nusantara.
Nama Ratu Kalinyamat menempati posisi penting dalam sejarah Nusantara abad ke-16. Dikenal sebagai penguasa Jepara, Kalinyamat merupakan salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Jawa.
Setelah berabad-abad hadir dalam babad, arsip kolonial, dan tradisi lisan, negara akhirnya secara resmi mengakui peran besarnya dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2023.
Baca Juga: Rohana Kudus, Perempuan Indonesia Yang Jadi Logo Google
Putri Dinasti Demak
Ratu Kalinyamat diyakini bernama asli Retna Kencana, putri dari Sultan Trenggana, Sultan Demak ketiga. Sebagai anak penguasa Demak, ia tumbuh dalam lingkungan politik dan maritim yang kuat.
Pada masa itu, Demak merupakan kekuatan Islam terbesar di Jawa dengan pengaruh luas di jalur perdagangan pesisir utara.
Retna Kencana kemudian menikah dengan Sultan Hadirin atau Hadlirin, dalam beberapa tulisan disebut juga dengan Sultan Hadirin, bangsawan yang berkuasa di wilayah Kalinyamat (Jepara).
Melalui pernikahan ini, ia menjadi bagian dari elite penguasa pesisir yang memiliki posisi strategis dalam perdagangan internasional dan pelayaran.
Krisis Politik Pasca-Runtuhnya Demak
Wafatnya Sultan Trenggana pada 1546 menandai awal krisis politik besar di Demak. Perebutan kekuasaan di antara elite istana memicu konflik berdarah.
Dalam situasi inilah Sultan Hadlirin terbunuh, sebuah peristiwa yang secara langsung memengaruhi perjalanan hidup Retna Kencana.
Setelah kematian suaminya, Retna Kencana tampil sebagai penguasa Jepara, Kalinyamat. Dalam tradisi Jawa, ia dikenal sebagai Ratu Kalinyamat, merujuk pada wilayah kekuasaannya.
Di tengah bergolaknya politik Jawa, ia berhasil mempertahankan Jepara sebagai entitas politik yang relatif mandiri dan kuat.
Jepara sebagai Kekuatan Maritim
Pada abad ke-16, Jepara bukan sekadar kota pelabuhan biasa. Wilayah ini merupakan pusat perdagangan penting di Pantai Utara Jawa, terhubung dengan jaringan niaga Asia Tenggara, India, hingga Timur Tengah.
Jepara juga dikenal memiliki armada laut yang besar dan terorganisasi.
Sumber-sumber Portugis mencatat bahwa Jepara di bawah Ratu Kalinyamat memiliki ratusan kapal dan ribuan prajurit. Catatan ini menunjukkan bahwa kekuasaannya bukan simbolis, melainkan nyata secara militer dan ekonomi.
Nama Ratu Kalinyamat tercatat dalam arsip kolonial Portugis sebagai penguasa perempuan yang berani dan kaya. Ia memimpin dua ekspedisi besar untuk menyerang Portugis di Malaka, pusat kekuasaan kolonial Eropa di Asia Tenggara saat itu.
Serangan pertama terjadi pada 1551, ketika armada Jepara bergabung dengan kekuatan Islam lain untuk menantang dominasi Portugis. Serangan kedua berlangsung pada 1574, dengan skala yang lebih besar.
Meskipun kedua ekspedisi tersebut tidak berhasil merebut Malaka, upaya ini menunjukkan perlawanan terbuka dan terorganisasi terhadap kolonialisme Eropa pada masa yang sangat awal.
Karena kekuatannya, penulis Portugis Diego do Couto menjulukinya sebagai Rainha de Japara, senhora poderosa e rica (Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa).
Penyebutan ini menjadi bukti tertulis internasional tentang eksistensi dan pengaruhnya di era itu.
Kontroversi Ratu Kalinyamat: Laku Tapa dan Legitimasi Moral
Selain dikenal sebagai penguasa maritim, Ratu Kalinyamat juga lekat dengan kisah laku tapa yang ia jalani setelah kematian suaminya.
Dalam tradisi Jawa, ia digambarkan melakukan asketisme, praktik spiritual yang ekstrem, sebagai bentuk protes moral terhadap kekerasan politik dan ketidakadilan baginya.
Kontroversi paling populer yang dianggap mitos bagi sebagian orang, bersumber dari Babad Tanah Jawi.
Dikisahkan bahwa setelah suaminya dibunuh oleh utusan Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat bersumpah tidak akan berpakaian sebelum Arya Penangsang tewas.
Para ahli dan sejarawan modern menafsirkan laku tapa yang dilakukan Ratu Kalinyamat yaitu ‘tapa wuda sinjang rambut’ (bertapa telanjang berikatkan rambut) bersifat simbolis. Maknanya adalah melepas segala atribut keduniawian, kemewahan, dan jabatan sebagai bentuk keprihatinan yang dalam, bukan telanjang secara fisik.
Pengakuan dalam Sejarah dan Arsip: Hubungan Jawa-Aceh yang Kuat Sejak Dulu
Keberadaan Ratu Kalinyamat tidak hanya bersumber dari babad Jawa, namun juga didukung oleh arsip Portugis abad ke-16. Kombinasi sumber lokal dan asing ini memperkuat posisinya sebagai tokoh sejarah yang dapat diverifikasi.
Dalam kajian sejarah modern, ia sering disebut sebagai salah satu penguasa perempuan maritim terkuat di Asia Tenggara, sejajar dengan figur-figur perempuan berpengaruh lainnya di kawasan tersebut.
Dalam dokumen dan naskah asli catatan sejarah di Biblioteca Nacional de Portugal dan arsip di Lisbon, ditemukan data bahwa Ratu Kalinyamat mengirim armada besar dari Jepara ke Malaka pada tahun 1551 dan 1574.
Saat itu, Sultan Aceh (Sultan Ali Ri’ayat Syah) mengirim utusan ke Jepara untuk meminta bantuan militer guna menyerang benteng Portugis di Malaka pada tahun 1573-1574.
Ratu Kalinyamat mengirimkan 300 kapal (terdiri dari kapal-kapal besar jenis Jung Jawa) dan 15.000 prajurit.
Catatan Portugis menyebutkan bahwa pengepungan oleh armada gabungan (Aceh-Jepara) ini berlangsung selama 3 bulan dan mengakibatkan krisis pangan parah bagi pasukan Portugis di dalam benteng.
Penetapan sebagai Pahlawan Nasional
Setelah melalui proses panjang pengkajian akademik dan pengusulan dari berbagai pihak, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2023.
Pemberian gelar sebagai pengakuan atas peran besar Ratu Kalinyamat.
• Peran aktifnya dalam melawan kolonialisme Portugis
• Kepemimpinannya sebagai penguasa perempuan di masa krisis
• Kontribusinya dalam sejarah maritim dan politik Nusantara
Penetapan ini sekaligus melengkapi narasi sejarah nasional dengan menghadirkan figur perempuan yang selama ini kurang mendapat sorotan.
Ratu Kalinyamat kini dikenang bukan hanya sebagai tokoh lokal Jepara, namun sebagai bagian dari sejarah nasional Indonesia.
Kisahnya menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme telah berlangsung jauh sebelum kedatangan VOC, dan bahwa perempuan memiliki peran signifikan dalam kepemimpinan politik dan militer Nusantara.
Pengakuan negara pada 2023 menjadi penegasan bahwa Ratu Kalinyamat bukan legenda semata, melainkan tokoh sejarah dengan jejak nyata dalam perjalanan bangsa.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





