Bacaini.ID, BLITAR — Kuliner seafood. Di Blitar Raya, wabil khusus di wilayah kota, para penggemar masakan laut tentu sudah pada tahu, atau tepatnya hafal.
Bahwa kampiun seafood hanya ditemukan di dekat kawasan Pasar Legi Kota Blitar. Di sebelah selatan pintu masuk pasar. Di antara deretan penjual kembang.
Terbayang menu cumi asam manis dengan semerbak harum masakan. Lalu udang, kerang, dan yang paling monumental: kepiting dengan racikan bumbu merah pedasnya.
Semua tahu. Lidah punya memori seperti halnya otak. Berfungsi serupa Big Data. Memiliki kemampuan mengingat sekaligus menyimpan rasa.
Namun semua itu sudah berlalu. Sudah lewat. Setidaknya mulai 4-5 bulan terakhir ini setelah depot makan Prasmanan, Seafood dan Chinese food Mboro, hadir.
Utamanya terkait julukan kampiun kuliner seafood hanya ada di dekat Pasar Legi Kota Blitar, perlu dikaji ulang. Perlu dipikir ulang.
Baca Juga:
- Tak Perlu Wisata Alam, Kuliner Khas Nganjuk Ini Bikin Orang Rela Balik Lagi
- Ragam Kuliner Maknyus di Banyuwangi, Rujak Soto Perlu Dicoba
Malam itu saya datang sedikit kemalaman. Tiba menjelang depot Prasmanan, Seafood dan Chinese food Mboro tutup. Beruntungnya masih ada bahan yang dimasak.
Bertempat di pinggir jalan raya Blitar-Tulungagung, yakni di Boro, Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, tak sulit menemukan lokasi Prasmanan, Seafood dan Chinese food Mboro.
Sebuah tempat makan dengan ruangan cukup luas dengan penerangan yang bagus. Di dalam ruangan dan teras, meja makan dan kursi ditata sedemikian rupa. Rapi dan bersih.
Duduk menghadap meja bundar, saya ditemani oleh ownernya. Malam itu Jaka Prasetya berdandan kasual: kaos oblong, celana jeans dipadu sepatu kets putih. Mbois.
“Silakan,” katanya sembari menyodorkan daftar menu makanan. Jaka Prasetya tidak berusaha mengarahkan atau merekomendasikan pada salah satu makanan favoritnya. Ia membebaskan.
Tentu saja pandangan langsung tertuju pada menu cumi asam manis. Terbayang potongan-potongan daging cumi yang dibumbu merah. Pada daftar menu tertulis 35 ribu per porsi.
Menu yang lain udang asam manis. Juga 35 ribu per porsi. Udang crispi asam manis dan cumi crispi asam manis, juga 35 ribu. Ada juga ikan bakar dengan bandrol 35-80 ribu per porsi.
Sedangkan lobster asam manis dihargai 70 ribu per ons. Udang besar yang berasal dari perairan laut selatan Tulungagung. Sudah fix. Pilihan tidak goyah. Seporsi cumi asam manis.
“Pedas?,” tanya juru masak, seorang perempuan muda dan langsung kuiyakan.
Untuk minum kupesan jeruk panas. Seafood dan jeruk panas adalah kombinasi yang baik dan aman. Jeruk kaya vitamin C, membantu mengurangi bau amis seafood dan juga menaikkan daya tahan tubuh.
Kuliner seafood kuliner kelas menengah
Kuliner seafood cumi asam manis bumbu merah itu disuguhkan dalam piring keramik polos. Daging cuminya besar-besar. Ada potongan jagung dan irisan wortel.
Ketimbang seafood di selatan Pasar Legi Kota Blitar, porsi cumi asam manis pedas ini lebih besar. Juga lebih empuk dan gurih.
Daging cumi yang telah terasuki bumbu merah itu langsung putus saat digigit dan dikunyah. Bumbu asam manisnya juga lebih kuat. Ada rasa rempah yang menyelinap.
“Gimana rasanya?,” tanya Jaka Prasetya meminta tanggapan.
Saya masih menikmati kelezatan kuliner yang baru saja tandas. Tepatnya mengagumi. Karenanya hanya mengacungkan 2 jempol. Maknyus.
Yang pasti cumi asam manis ini memiliki porsi lebih besar. Dagingnya juga lebih empuk. Soal citarasa mampu bersaing ketat dengan seafood di sebelah Pasar Legi.
Namun mengingat harga per porsi yang jauh lebih ekonomis, seafood di Mboro yang baru buka 4-5 bulanan itu, jelaslebih unggul.
Jaka Prasetya cerita. Pernah suatu hari usaha kulinernya kedatangan seorang pengusaha Tionghoa asal Surabaya yang sedang ada urusan bisnis di Blitar.
Saat melintas ia mengaku tak sengaja melihat Prasmanan, Seafood dan Chinese food Mboro dan memutuskan mampir.
Selesai bersantap si pengusaha Tionghoa itu cerita kalau dirinya penggemar seafood. Saat itu, kata Jaka yang bersangkutan lebih banyak ngobrol dengan juru masaknya.
Juga disampaikan kalau datang ke Blitar bersama keluarga, akan mampir lagi. “Intinya puas dengan rasa dan harga yang terpampang dan lebih ekonomis,” terang Jaka Prasetya.
Kuliner seafood merupakan kuliner kelas menengah, khususnya dari sisi harga. Jaka Prasetya menyadari itu sejak memutuskan membuka Prasmanan, Seafood dan Chinese food Mboro sekitar 4-5 bulan lalu.
Karenanya keramaian kunjungan dalam bisnis seafood tidak bisa dipersamakan dengan kuliner masakan rumah tangga atau bisnis warung kopi.
Mengenai bahan baku kuliner seafoodnya, ia memilih berbelanja ke Tulungagung daripada Blitar karena alasan lebih ekonomis.
“Kebetulan kokinya (juru masak) juga orang Panjer Kabupaten Tulungagung,” pungkasnya.
Penulis: Solichan Arif





