Bacaini.ID, KEDIRI – Rebung atau bambu muda yang selama ini dikenal sebagai sayur tradisional (sayur bung) ternyata menyimpan potensi besar sebagai superfood.
Penelitian terbaru mengungkap kandungan nutrisi rebung mampu mendukung kesehatan metabolisme, pencernaan, hingga mengontrol kadar gula darah.
Temuan ini berasal dari tinjauan akademis pertama di dunia yang secara khusus mengkaji konsumsi bambu, yang dilakukan oleh tim peneliti dari Anglia Ruskin University (ARU), Inggris.
Para peneliti mengumpulkan dan menganalisis seluruh penelitian yang telah dipublikasikan terkait konsumsi bambu, baik melalui uji coba pada manusia (in vivo) maupun eksperimen laboratorium pada sel manusia (in vitro). Hasilnya menunjukkan bahwa rebung berpotensi membantu mengontrol kadar gula darah, melawan peradangan, meningkatkan kesehatan usus, serta berperan sebagai antioksidan.
Baca Juga: Tak Perlu Wisata Alam, Kuliner Khas Nganjuk Ini Bikin Orang Rela Balik Lagi
Rebung Kaya Nutrisi
Bambu dikenal sebagai tanaman dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan beberapa varietas mampu tumbuh hingga 90 sentimeter per hari.
China dan India menjadi produsen bambu terbesar secara global. Meski rebung telah lama menjadi bagian dari pola makan di berbagai negara Asia, penelitian ini menegaskan bahwa manfaatnya berpotensi relevan untuk diterapkan secara lebih luas di tingkat global.
Dalam jurnal penelitian yang dipublikasikan oleh Science Direct tersebut, secara nutrisi rebung mengandung protein dalam jumlah relatif tinggi, kadar serat sedang, dan rendah lemak.
Selain itu, rebung juga kaya akan asam amino, selenium, kalium, serta vitamin penting seperti tiamin, niasin, vitamin A, vitamin B6, dan vitamin E.
Kombinasi nutrisi ini dinilai berkontribusi pada berbagai efek positif terhadap kesehatan metabolisme.
Sejumlah uji coba pada manusia menunjukkan bahwa konsumsi rebung dapat memperbaiki kontrol glikemik, yang berarti membantu mengatur kadar gula darah, faktor penting dalam pengelolaan diabetes.
Penelitian ini juga menemukan perbaikan profil lipid, yang berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Sebagai sumber serat makanan, termasuk selulosa, hemiselulosa, dan lignin, rebung terbukti dapat mendukung fungsi usus dan kesehatan pencernaan.
Manfaat Rebung Untuk Kesehatan Secara Sains
Studi yang dilakukan pada manusia dalam penelitian tersebut, melaporkan adanya peningkatan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, penurunan toksisitas sel, serta peningkatan viabilitas sel setelah konsumsi rebung.
Pada rebung yang dikonsumsi manusia, juga menunjukan bahwa rebung memiliki sifat antioksidan kuat dan potensi efek probiotik, yang dapat mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus.
Senyawa tertentu dalam rebung juga ditemukan mampu menghambat pembentukan furan dan mengurangi produksi akrilamida, dua senyawa kimia beracun yang dapat terbentuk saat makanan digoreng atau dipanggang.
Hal ini membuka peluang pemanfaatan rebung sebagai bahan tambahan untuk meningkatkan keamanan pangan. Namun, para peneliti juga menekankan adanya risiko kesehatan jika bambu tidak diproses dengan benar.
Beberapa spesies bambu mengandung glikosida sianogenik yang dapat melepaskan sianida jika dikonsumsi mentah.
Selain itu, sebuah studi mencatat adanya senyawa dalam rebung yang berpotensi mengganggu produksi hormon tiroid dan meningkatkan risiko gondok. Risiko-risiko ini dapat diminimalkan dengan proses perebusan yang tepat sebelum konsumsi.
Rebung Berpotensi Sebagai Superfood
Para peneliti menyebut rebung memiliki potensi kuat sebagai makanan super yang berkelanjutan dan menyehatkan.
Meski demikian, mereka menegaskan bahwa bukti dari uji coba pada manusia masih terbatas. Dari seluruh literatur yang ditinjau, hanya 4 studi yang melibatkan partisipan manusia yang memenuhi kriteria ilmiah, sehingga penelitian lanjutan dengan kualitas tinggi masih sangat dibutuhkan sebelum rekomendasi konsumsi bambu dapat diberikan secara lebih tegas.
Di negara-negara Asia, rebung sejak dulu dikenal sebagai bahan pangan. Namun penelitian ilmiah tentang manfaat kesehatannya masih sangat terbatas.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





