Bacaini.ID, KEDIRI — Cara seseorang berkirim pesan singkat atau chatting kerap dianggap sepele.
Padahal, dalam psikologi hubungan, pola komunikasi digital dapat mencerminkan gaya kelekatan (attachment style): pola emosional seseorang dalam membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal.
Kebiasaan membalas pesan, frekuensi komunikasi, hingga respons terhadap jeda balasan, dapat berkaitan dengan gaya kelekatan seseorang dalam hubungan romantis.
Baca Juga: Whatsapp Luncurkan Fitur Chat, Ketahui Manfaatnya
Konsep gaya kelekatan berakar pada Attachment Theory yang dikembangkan oleh psikolog Inggris John Bowlby dan diperluas oleh Mary Ainsworth.
Teori ini menjelaskan bahwa pengalaman emosional sejak dini membentuk cara individu merasa aman, cemas, atau menjaga jarak dalam hubungan dewasa.
Kini di era modern, hubungan romantis sangat bergantung pada komunikasi digital. Gaya kelekatan seseorang dapat terbaca melalui perilaku berkirim pesan.
Berikut attachment style seseorang yang dapat dilihat dari caranya berkirim pesan teks, dikutip dari Verywell Mind:
Secure Attachment dan Pola Chat yang Seimbang
Individu dengan secure attachment atau gaya kelekatan aman cenderung memiliki hubungan yang stabil dengan komunikasi yang konsisten namun tidak berlebihan.
Berikut umumnya kebiasaan mereka berkirim pesan:
• Merespons pesan secara wajar, tidak terburu-buru namun juga tidak abai
• Tidak cemas saat pasangan terlambat membalas
• Mampu berkomunikasi secara jelas dan langsung
Kelompok ini memandang pesan singkat sebagai alat komunikasi, bukan penentu nilai diri atau kualitas hubungan.
Mereka tidak bergantung pada chat untuk validasi emosional, namun tetap menjaga keterhubungan yang sehat.
Psikolog mencatat bahwa secure attachment berkorelasi dengan tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi dan konflik komunikasi yang lebih rendah, termasuk dalam komunikasi digital.
Anxious Attachment: Respons Cepat dan Kebutuhan Kepastian
Berbeda dengan gaya aman, individu dengan anxious attachment atau kelekatan cemas cenderung menunjukkan pola berkirim pesan yang intens. Ciri umumnya meliputi:
• Merespons pesan dengan sangat cepat
• Mengirim banyak pesan berturut-turut
• Merasa gelisah atau overthinking jika pesan tidak segera dibalas
• Menafsirkan jeda balasan sebagai tanda penolakan
Pada gaya ini, pesan singkat berfungsi sebagai sarana untuk mencari kepastian emosional.
Keterlambatan membalas sering kali memicu kecemasan, meski tidak selalu disebabkan oleh masalah hubungan dalam dunia nyata.
Dalam teori kelekatan, pola ini berkaitan dengan kebutuhan akan kedekatan yang tinggi dan sensitivitas terhadap kemungkinan ditinggalkan.
Psikolog menekankan bahwa perilaku ini bukan bentuk ‘manja’, melainkan respons emosional yang terbentuk dari pengalaman relasional sebelumnya.
Avoidant Attachment dan Pola Chat yang Minim
Sementara itu, individu dengan avoidant attachment atau kelekatan menghindar, cenderung menjaga jarak emosional, termasuk dalam komunikasi digital. Pola berkirim pesan yang sering muncul antara lain:
• Membalas pesan secara singkat dan seperlunya
• Jarang memulai percakapan
• Membutuhkan waktu lama untuk membalas
• Menghindari topik emosional melalui chat
Kelompok ini sering merasa kewalahan dengan komunikasi yang terlalu intens. Pesan singkat, terutama yang bersifat emosional, bisa dianggap sebagai tekanan atau gangguan terhadap kebutuhan akan kemandirian.
Dalam psikologi, gaya kelekatan menghindar berkembang sebagai mekanisme perlindungan diri.
Individu belajar untuk mengandalkan diri sendiri dan membatasi ketergantungan emosional, termasuk lewat cara mereka berkomunikasi.
Fearful-Avoidant: Tarik Ulur dalam Pesan
Jenis lain yang juga dibahas dalam literatur psikologi adalah fearful-avoidant attachment, gabungan antara kecemasan dan penghindaran.
Dalam kebiasaan chat, pola ini bisa tampak sebagai:
• Sangat intens di satu waktu, lalu menghilang
• Mengirim pesan panjang emosional, kemudian menarik diri
• Ingin dekat tetapi takut terluka
Pola ini sering menimbulkan kebingungan dalam hubungan karena sinyal komunikasi yang tidak konsisten.
Individu dengan gaya ini menginginkan kedekatan, namun pada saat yang sama merasa tidak aman saat hubungan mulai terasa intens.
Budaya Digital dan Psikologi Saling Terkait
Para ahli menekankan bahwa kebiasaan berkirim pesan tidak bisa berdiri sendiri sebagai alat diagnosis psikologis. Faktor lain yang mempengaruhi di antaranya.
• Budaya kerja
• Pola penggunaan ponsel
• Kebiasaan komunikasi pasangan
• Situasi stres atau tekanan hidup, semuanya memengaruhi cara seseorang berkomunikasi lewat pesan.
Gaya kelekatan bersifat dinamis, bukan label permanen. Seseorang bisa menunjukkan pola anxious dalam satu hubungan, namun lebih secure dalam hubungan lain yang terasa aman.
Psikolog hubungan menilai pemahaman tentang gaya kelekatan melalui kebiasaan chat bisa digunakan untuk meningkatkan kesadaran diri, bukan untuk melabeli atau menyalahkan pasangan.
Dengan mengenali pola komunikasi masing-masing, pasangan dapat:
• Menyesuaikan ekspektasi
• Mengurangi kesalahpahaman
• Membangun komunikasi yang lebih sehat
Komunikasi yang terbuka mengenai kebutuhan emosional jauh lebih penting dibanding menafsirkan pesan teks secara sepihak.
Ketika hubungan banyak dijalani melalui layar ponsel, kebiasaan berkirim pesan menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika emosional dalam pasangan.
Pemahaman psikologis terhadap pola ini membantu dapat membantu setiap pasangan untuk menyadari bahwa reaksi mereka terhadap chat bukan semata-mata soal teknologi, melainkan cerminan dari pola kelekatan yang lebih dalam.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





