Bacaini.ID, KEDIRI — Kontribusi perempuan di Indonesia semakin nyata dan diakui perannya dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional dan keluarga.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Komunikasi dan Digital per akhir 2025, sekitar 64,5% dari total 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan.
Hal ini selaras dengan temuan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan tren peningkatan fenomena female breadwinners, perempuan yang mengambil peran sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, perempuan dewasa saat ini tumbuh di era transisi, dari ekonomi konvensional menuju ekonomi digital.
Mereka tidak lagi sekadar pengelola keuangan rumah tangga, melainkan pengambil keputusan ekonomi yang aktif, baik sebagai pekerja profesional, pelaku UMKM, maupun penggerak ekonomi keluarga.
Baca Juga: Female Breadwinners: Perempuan Menafkahi Keluarga Kian Marak
Partisipasi Ekonomi Melalui UMKM
Seperti diketahui data BPS menunjukkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan terus mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir.
TPAK perempuan per September 2025 tercatat sebesar 56,70%. Angka ini menunjukkan peningkatan bertahap dari tahun 2024 yang berada di level 56,42%.
BPS dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) juga menyebutkan perempuan mendominasi UMKM dengan mengelola sekitar 60-64% dari total UMKM yang ada di Indonesia.
Bagi perempuan usia produktif, UMKM sering dipilih sebagai jalan tengah untuk menggerakkan perekonomian keluarga.
Melalui UMKM mereka tetap produktif secara ekonomi, namun lebih fleksibel dalam mengatur waktu. Pengalaman hidup dan jejaring sosial yang sudah terbentuk menjadi modal penting untuk menjalankan usaha, meski tidak selalu disertai dengan kesiapan finansial yang memadai.
Namun, tantangan terbesar yang dihadapi perempuan pelaku UMKM adalah akses permodalan, literasi keuangan, dan keberlanjutan usaha.
Banyak bisnis bertahan secara operasional, namun rapuh secara keuangan karena bercampurnya uang usaha dan kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Life Begins at 40: Psikologi Ungkap Seks di Usia 40 Lebih Memuaskan Perempuan
Profil Female Breadwinners Indonesia Oleh BPS
Berdasarkan publikasi BPS, sebanyak 14,37% dari total pekerja di Indonesia tergolong sebagai female breadwinners. Artinya, sekitar 1 dari 10 pekerja perempuan merupakan penopang utama ekonomi, tulang punggung keluarga.
Kategori ini mencakup perempuan yang menjadi satu-satunya pencari nafkah atau penyumbang pendapatan terbesar, paling dominan dalam rumah tangga.
Data BPS menunjukkan tren signifikan mayoritas female breadwinners di tahun 2024-2025 berstatus sebagai istri, yang berarti mereka bekerja meskipun suami ada di dalam rumah tangga.
Sementara sekitar 31,18% dari perempuan pencari nafkah utama berstatus janda cerai hidup maupun mati.
Secara formal, BPS mencatat 11,89% hingga 12,73% rumah tangga di Indonesia kini dipimpin oleh perempuan sebagai Kepala Keluarga.
Namun, meskipun menjadi pencari nafkah utama di keluarga, hanya 26,58% dari female breadwinner yang memiliki jaminan kesehatan resmi.
Mayoritas perempuan dalam kategori ini menjalani ‘beban ganda’: memikul tanggung jawab ekonomi sekaligus tetap mengerjakan tugas domestik dan pengasuhan anak di rumah.
Sementara itu jumlah perempuan yang bekerja paruh waktu (part-time) terus meningkat, mencapai 24,2 juta orang per Agustus 2024, yang menunjukkan fleksibilitas menjadi kunci bagi perempuan untuk tetap bisa mencari nafkah sambil mengurus rumah tangga.
Dan proporsi perempuan sebagai kepala rumah tangga lebih tinggi di wilayah perkotaan (12,32%) dibandingkan di perdesaan (11,36%).
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





