Bacaini.ID, KEDIRI – Sebagian mahasiswa Gen Z tidak mampu membaca teks panjang dengan pemahaman mendalam, meski telah menempuh pendidikan tinggi.
Fenomena mengerikan itu menjadi laporan media Amerika Serikat belum lama ini. Berbagai riset pendidikan menegaskan, masalah di kalangan Gen Z bukan sekadar soal akademik, melainkan krisis literasi fungsional.
Di Indonesia, beberapa video yang pernah viral juga merekam murid-murid tingkat pertama hingga atas yang kesulitan membaca dan berhitung.
Fenomena ini beririsan dengan gejala lain yang kini terasa global, pengguna media sosial (medsos) yang semakin mudah tersinggung, cepat marah, dan sering berkomentar kasar di media sosial, bahkan di luar konteks.
Apakah keduanya saling berkaitan? Sejumlah riset menunjukkan jawabannya: ya, ada hubungannya.
Baca Juga: Perilaku Politik Gen Z Tahun 2026, Partai Wajib Tahu
Literasi Rendah Bukan Berarti Tidak Bisa Membaca
Literasi rendah bukan hanya sekedar kurang membaca, namun juga mengenai kurangnya kemampuan memahami makna dari narasi.
Laporan beberapa media Amerika Serikat yang mengatakan anak-anak muda ‘tidak bisa membaca’, adalah mengenai minimnya pemahaman narasi atau sebuah kalimat panjang, bukan tentang buta huruf.
Menurut National Assessment of Educational Progress (NAEP), banyak mahasiswa berada di bawah standar college-level reading, artinya mereka kesulitan memahami argumen kompleks, menarik kesimpulan implisit, dan memproses teks panjang secara kritis.
Data NAEP menunjukkan lebih dari 40 persen mahasiswa baru di AS tidak memiliki kemampuan membaca yang memadai untuk tuntutan akademik.
Ini diperkuat laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menyoroti menurunnya kemampuan deep reading di negara maju akibat perubahan sistem pendidikan dan budaya digital.
Baca Juga: Gen Z Ogah Gabung Partai Politik, Tapi Tetap Kritis di Medsos
Membaca Dangkal, Berpikir Dangkal
Membaca dangkal berarti hanya menangkap kata kunci atau potongan informasi, tanpa memahami struktur makna dan konteks.
Penelitian University of Sussex dan OECD menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan membaca dangkal cenderung kesulitan menunda reaksi emosional.
Fenomena ini di media sosial terlihat jelas. Banyak pengguna bereaksi hanya dari judul, satu kalimat atau potongan tangkapan layar.
Akibatnya, makna yang seharusnya netral atau kompleks dipersempit menjadi pemicu emosi. American Psychological Association (APA) dalam kajiannya tentang emotional regulation menyebutkan bahwa pemahaman kognitif dan pengendalian emosi saling terkait.
Ketika seseorang gagal memahami informasi secara utuh, otak cenderung mengisi kekosongan makna dengan asumsi, biasanya asumsi yang emosional.
Dari sinilah lahir perilaku ‘sumbu pendek’: ketika konteks tidak dipahami, pernyataan netral bisa terasa menyerang. Kritik konstruktif dibaca sebagai penghinaan, diskusi berubah menjadi pertengkaran.
Baca Juga: Soft Life, Gaya Hidup Gen Z yang Kesampingkan Kerja Keras
Peran Sistem Pendidikan yang Bermasalah
Krisis literasi yang melanda berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, tidak muncul tiba-tiba.
Investigasi American Public Media (APM) Reports melalui jurnalis pendidikan Emily Hanford mengungkap kegagalan metode balanced literacy yang selama puluhan tahun digunakan di banyak sekolah.
Metode ini mengurangi pengajaran fonik dan mendorong siswa menebak kata berdasarkan konteks atau gambar.
Menurut American Federation of Teachers, metode ini membuat banyak siswa tampak lancar membaca, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan teks kompleks. Mereka terbiasa ‘menebak makna’, bukan membangun pemahaman.
Kebiasaan menebak ini terbawa hingga dewasa dan di media sosial, tebakan sering berubah menjadi tudingan.
Di Indonesia sendiri, kurikulum Merdeka Belajar dianggap sebagai biang persoalan lemahnya literasi para murid, namun sebenarnya masalah yang terjadi lebih kompleks dari sekedar penggunaan satu metode belajar.
Media Sosial: Ekosistem yang Memperparah
Riset MIT Media Lab dan Pew Research Center menunjukkan bahwa platform media sosial dirancang untuk mendorong reaksi cepat, bukan refleksi.
Tombol like, share, dan komentar dibuat untuk respons instan berbasis emosi. Ketika kebiasaan membaca mendalam sudah melemah, ekosistem ini menjadi bahan bakar sempurna.
Otak tidak dilatih untuk memahami, namun bereaksi. Dalam kondisi ini, jempol bergerak lebih cepat daripada otak.
Fenomena lain yang diperparah oleh literasi rendah adalah affective reasoning: menilai benar atau salah berdasarkan perasaan, bukan isi argumen.
Psikolog dari APA mencatat bahwa individu dengan paparan informasi cepat dan terfragmentasi cenderung mengandalkan respons emosional sebagai alat penilaian.
Akibatnya, jika sebuah unggahan terasa menyinggung, ia dianggap salah, meski secara isi tidak demikian. Ini menjelaskan mengapa banyak perdebatan daring tidak pernah menyentuh substansi, melainkan berputar pada emosi.
Sebuah penelitian dari Harvard Kennedy School menyoroti efek echo chamber di media sosial. Algoritma cenderung mempertemukan pengguna dengan pandangan yang serupa, mengurangi paparan terhadap sudut pandang berbeda.
Dalam jangka panjang, kemampuan membaca argumen lawan melemah. Ketika akhirnya berhadapan dengan opini berbeda, respons yang muncul bukan dialog, melainkan serangan. Tanpa literasi kritis, perbedaan dipersepsikan sebagai ancaman.
Bukan Hanya Gen Z, Milenial dan Gen X Juga Terpapar
Meski laporan literasi banyak menyoroti Gen Z, para peneliti menegaskan bahwa ini bukan masalah satu generasi. Milenial dan Gen X juga terdampak budaya digital dan penurunan kebiasaan membaca.
Bedanya, Gen Z terpapar sejak usia perkembangan otak, sehingga dampaknya lebih struktural. OECD mencatat bahwa penurunan reading stamina terjadi lintas usia, seiring meningkatnya konsumsi konten pendek dan visual.
Individu yang kesulitan memahami teks kompleks lebih rentan terhadap misinformasi, hoaks, dan polarisasi. Ketika ruang publik digital dipenuhi reaksi emosional tanpa pemahaman, media sosial berubah dari ruang dialog menjadi arena pelampiasan.
Pada akhirnya, masyarakat yang sulit memahami akan lebih mudah marah, sementara masyarakat yang terbiasa membaca dengan utuh cenderung memberi ruang pada berpikir sebelum bereaksi.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





