Bacaini.ID, KEDIRI – Amangkurat I memberi warna gelap dalam perjalanan sejarah Kerajaan Mataram Islam pada pertengahan abad ke-17.
Kekuasaan absolut Amangkurat I yang bertemu intrik internal istana mengakibatkan kejatuhannya.
Salah satu peristiwa monumental adalah kematian Ratu Malang, permaisuri Amangkurat I. Bukan hanya jadi tragedi personal, namun juga peristiwa politik yang berdampak pada arah pemerintahan Mataram.
Peristiwa ini dicatat dalam sumber-sumber Jawa klasik dan disebut oleh sejarawan modern sebagai salah satu titik balik psikologis sang raja.
Baca Juga: Sejarah Penghancuran Kediri
Ratu Malang dalam Catatan Sejarah
Sumber utama yang mencatat keberadaan Ratu Malang adalah Babad Tanah Jawi dan beberapa babad turunannya.
Dalam sumber-sumber ini, Ratu Malang disebut sebagai permaisuri Amangkurat I yang berasal dari daerah Malang, Jawa Timur.
Nama ‘Malang’ merujuk pada asal geografis, bukan nama pribadi. Namun pendapat lain mengatakan, nama ‘Malang’ didapat sang Ratu sebagai julukan atas kehadirannya di istana.
Kehadiran Ratu Malang membuat suasana istana menjadi tidak kondusif. Amangkurat I sangat mencintainya sampai kerap melanggar tatanan atau etika istana.
Karenanya, permaisuri baru Raja ini dijuluki sebagai Ratu Malang yang merujuk pada kata ‘palang’ atau ‘malang’ dalam bahasa Jawa yang artinya ‘melintang’ atau ‘menghalangi’.
Sang Ratu dianggap sebagai petaka bagi kerajaan karena perselisihan yang terus menerus terjadi. Tidak ada keterangan eksplisit mengenai nama asli, silsilah keluarga, maupun latar sosialnya dalam babad awal.
Dalam tradisi historiografi Jawa, perempuan istana, bahkan permaisuri, sering kali dicatat secara singkat, terutama jika mereka tidak berasal dari keluarga bangsawan tinggi.
Karena itu, banyak aspek kehidupan pribadi Ratu Malang tidak dapat diverifikasi secara pasti. Namun beberapa sumber lain mengatakan, Ratu Malang bernama asli Retno Gumilang, putri Ki Wayah, seorang dalang.
Sebelumnya, Ratu Malang diketahui bersuamikan Ki Dalang Panjang Mas, seorang dalang terkenal di Mataram yang kemudian menjadi dalang keraton.
Baca Juga: Cerita Pangreh Praja yang Berwatak Oportunis Sejak Era Kolonial
Pernikahan dengan Amangkurat I
Pernikahan Ratu Malang dengan Amangkurat I terjadi pada awal masa pemerintahan sang raja, sekitar 1646–1647.
Dalam babad, pernikahan ini dicatat sebagai peristiwa istana yang sah. Namun beberapa catatan sejarah yang di antaranya oleh pejabat VOC, Rijklof van Goens, dan menjadi rujukan sejarawan, menyebutkan terjadinya skandal dalam istana.
Raja Amangkurat I, disebutkan mengambil istri seorang dalang terkenal dan membunuh sang dalang beserta seluruh rombongannya yang berjumlah sekitar 40 orang.
Laporan pejabat VOC mengenai konflik-konflik atau peristiwa dalam istana ini adalah hal yang lumrah dilakukan sebagai bagian dari tindakan intelejen untuk kepentingan politik.
Selain itu Serat Kandha juga menuliskan hal yang sama. Walaupun lebih bersifat sastra, serat ini diyakini ditulis berdasar peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam keraton.
Pernikahan antara Amangkurat I dan Ratu Malang menjadi salah satu fragmen kelam dalam masa pemerintahan Amangkurat I dan sejarah Mataram Islam.
Pertemuan mereka berawal dari pertunjukan wayang oleh Ki Dalang Panjang Mas di istana Plered. Kehadiran Retno Gumilang, istri sang dalang, rupanya membuat Amangkurat I langsung jatuh cinta yang obsesif.
Meskipun tahu bahwa Retno Gumilang merupakan istri Ki Dalang Panjang Mas dan sedang hamil saat itu, tak menyurutkan niat Amangkurat I untuk memperistrinya.
Karena permintaan secara baik-baik untuk memperistri Retno Gumilang ditolak oleh Ki Dalang Panjang Mas, Amangkurat I menggunakan cara kekerasan.
Kedudukan Ratu Malang dan Awal Intrik
Babad Tanah Jawi menggambarkan bahwa Amangkurat I sangat mencintai Ratu Malang. Ia disebut sebagai permaisuri yang paling mendapat perhatian raja.
Kedekatan ini memiliki konsekuensi politik di dalam istana Mataram yang menganut sistem poligami. Dalam struktur keraton, perhatian berlebih kepada satu permaisuri dapat mengganggu keseimbangan internal.
Setiap istri raja biasanya terhubung dengan jaringan keluarga dan elite tertentu. Ketika satu permaisuri menjadi terlalu dominan, kelompok lain merasa terancam, bukan hanya secara emosional, namun juga secara politis.
Intrik-intrik dalam istana pun semakin tajam semenjak kehadiran Ratu Malang yang menjadi favorit Raja. Peristiwa paling krusial adalah tentang wafatnya Ratu Malang.
Dalam berbagai versi Babad Tanah Jawi, ia disebut meninggal secara tidak wajar, umumnya dengan keterangan ‘diracun’.
Setelah kematian Ratu Malang, Amangkurat I disebutkan jatuh dalam duka mendalam. Ia disebut mengalami sakit dan perubahan sikap.
Dalam periode setelah peristiwa ini, kebijakan pemerintahannya menunjukkan kecenderungan makin keras dan represif.
Sejarawan M.C. Ricklefs mencatat bahwa pada masa-masa berikutnya, Amangkurat I semakin tidak mempercayai lingkungan elite, makin sering menggunakan kekerasan sebagai alat kontrol, dan menunjukkan ketegangan psikologis dalam memerintah.
Beberapa sejarawan menafsirkan bahwa kematian Ratu Malang memperparah paranoia Amangkurat I, meskipun bukan satu-satunya faktor. Ancaman pemberontakan, konflik elite, dan ketidakstabilan regional juga berperan besar.
Kondisi ini berkontribusi pada rapuhnya struktur Mataram, yang kelak meledak dalam pemberontakan besar Trunajaya pada 1670-an.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





