Bacaini.ID, KEDIRI – Moestopo adalah satu-satunya pahlawan nasional yang memiliki gelar akademik terbanyak dalam sejarah Indonesia. Ilmu pengetahuannya berjalan lurus dengan kepiawaiannya memimpin pertempuran melawan penjajah.
Lahir di Ngadiluwih Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada 13 Juni 1913, Moestopo dibesarkan oleh pasangan Raden Koesoemowinoto dan Ny. Indoen Soekidjah. Sebagai anak keenam dari delapan bersaudara, masa kecilnya tidak sepenuhnya mudah.
Ayahnya meninggal saat ia masih kelas V Hollandsch-Inlandsche School (HIS), yakni sekolah Belanda untuk bumiputera. Namun kondisi ini justru menguatkan karakter Moestopo yang sejak kecil dikenal gesit, mandiri, dan tak pernah takut bermimpi besar.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari HIS dan MULO, hingga akhirnya ia diterima di STOVIT Surabaya, sekolah tinggi kedokteran gigi paling prestisius masa itu. Di sana bakat intelektualnya bersinar terang.
Pada usia 24 tahun, ia telah menyandang gelar dokter gigi, sebuah pencapaian yang menjadi awal dari deretan gelar panjang yang kelak membuat namanya terkenal seantero negeri.
Ia juga menempuh pendidikan lanjutan dalam bidang orthodonti di Surabaya dan UGM Yogyakarta, serta bedah mulut di Fakultas Kedokteran UI. Untuk memperdalam ilmnya, Moestopo melanjutkan pendidikan yang sama di Jepang dan Amerika Serikat.
Perjalanan Moestopo tidak berhenti di dunia kedokteran. Masuknya dalam pusaran sejarah Indonesia terjadi ketika Jepang menduduki tanah air pada 1942. Pada masa sulit itu, ia sempat ditangkap oleh Kempeitai karena dicurigai sebagai orang Indo akibat perawakannya yang besar.
Setelah dibebaskan, ia kembali ke dunia kedokteran. Namun tahun-tahun berikutnya ia memilih jalan tak terduga, yakni bergabung di dunia militer. Moestopo mengikuti pendidikan PETA di Bogor, seangkatan dengan tokoh besar seperti Jenderal Soedirman dan Gatot Subroto. Di sini ia menunjukkan kemampuan luar biasa sebagai pemimpin.
Moestopo kemudian dipercaya memimpin pasukan di Sidoarjo dan Surabaya. Ia terlibat langsung dalam pertempuran-pertempuran penting selama Revolusi Nasional.
Setelah proklamasi, ia ditunjuk sebagai Kepala BKR Karesidenan Surabaya dan Penanggung Jawab Revolusi Jawa Timur, sebuah posisi strategis di masa pergolakan awal kemerdekaan. Karier militernya terus menanjak hingga ia beberapa kali menjabat komandan resimen, panglima teritorial, hingga Wakil Panglima Markas Besar Komando Djawa.
Tetapi apa yang membuat Moestopo begitu dikenang masyarakat bukan hanya keberanian atau kontribusinya di dunia militer, melainkan juga jumlah gelar yang ia sandang. Menurut catatan Pikiran Rakyat tahun 1986, Moestopo memiliki sedikitnya 18 gelar akademik, profesi, kehormatan, hingga julukan budaya. Setiap kali diminta menuliskan namanya lengkap, ia akan menuliskan deretan panjang:
Mayor Jenderal TNI (Purn.), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapak Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama, dan Pengawal Pancasila.
Deretan gelar itu mencerminkan betapa luasnya minat dan kontribusi Moestopo di dunia ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia dijuluki sebagai perintis ilmu kedokteran gigi modern di Indonesia, tokoh komunikasi, pengamal Pancasila, bahkan pelopor bedah rahang di tanah air.
Pada tahun 1961, Moestopo mendirikan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), sebuah perguruan tinggi yang hingga kini tetap berdiri kokoh sebagai bagian dari warisannya untuk dunia pendidikan Indonesia.
Moestopo wafat pada 29 September 1986 di Bandung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tahun-tahun setelah kepergiannya tidak menghapus jejak pengabdiannya. Pada 9 November 2007, negara resmi menganugerahkan kepadanya gelar Pahlawan Nasional.
Penulis: Hari Tri Wasono
(Dirangkum dari berbagai sumber literasi)





