Bacaini.ID, JAKARTA – Malam 8 Januari 2026 akan dikenang sebagai momen bersejarah dalam perang teknologi modern. Pukul 22:15 waktu Teheran, jutaan ponsel di Iran tiba-tiba kehilangan sinyal internet. Yang lebih mengejutkan, Starlink milik Elon Musk ikut mati total.
Selama ini, Starlink dianggap sebagai “internet yang tak terkalahkan” karena menggunakan ribuan satelit di luar angkasa. Bagaimana mungkin sebuah negara bisa mematikannya dari bumi?
Senjata Rahasia Iran
Iran ternyata menemukan kelemahan fatal Starlink yang selama ini tersembunyi. Terminal Starlink memang terhubung ke satelit di luar angkasa, tapi ada satu hal yang sering dilupakan: perangkat ini butuh sinyal GPS untuk mengetahui posisi satelit yang tepat.
Sinyal GPS yang datang dari ribuan kilometer di atas sangat lemah. Iran memanfaatkan kelemahan ini dengan cara yang brilian namun sederhana. Mereka mengirim truk-truk khusus yang memancarkan “kebisingan” radio untuk mengacaukan sinyal GPS.
Strategi Kucing dan Tikus
Bayangkan Anda sedang mencari stasiun radio favorit, tapi ada orang yang sengaja memutar volume radio lain dengan suara keras di sebelah Anda. Itulah yang terjadi pada terminal Starlink di Iran. Tanpa GPS yang akurat, antena Starlink terus berputar-putar mencari satelit yang sebenarnya ada di atas sana, tapi tidak bisa ditemukan.
Hasilnya? 40.000-50.000 pengguna Starlink di Iran mendadak kehilangan akses internet, meski satelitnya masih beroperasi normal di luar angkasa.
Pelajaran dari Ukraina
Kemampuan Iran ini bukan muncul tiba-tiba. Setelah melihat betapa pentingnya Starlink bagi Ukraina dalam melawan Rusia, Moscow mengembangkan teknologi untuk melumpuhkannya. Teknologi inilah yang kemudian dibagi ke Iran, ditambah dukungan infrastruktur dari China.
Yang paling cerdas dari taktik Iran adalah mereka tidak memblokir semua sinyal navigasi. Mereka hanya mengacaukan GPS milik Amerika, sementara sistem navigasi China (BeiDou) dan Rusia (GLONASS) tetap berfungsi normal. Artinya, militer Iran tetap bisa beroperasi, tapi para demonstran kehilangan akses komunikasi.
Langkah Terakhir yang Ekstrem
Tiga hari kemudian, 11 Januari 2026, Iran mengambil langkah yang jarang dilakukan negara manapun, yakni memutus seluruh jaringan telepon kabel. Iran benar-benar menjadi “kotak hitam” di tengah Timur Tengah.
Pemutusan telepon kabel biasanya hanya dilakukan dalam kondisi perang total. Tanpa internet, tanpa ponsel, tanpa telepon rumah, koordinasi massa menjadi mustahil. Bahkan agen-agen asing yang mungkin beroperasi di Iran kehilangan cara berkomunikasi dengan komando mereka.
Meski memblokir akses rakyat, pemerintah Iran tetap menjaga komunikasi mereka sendiri melalui sistem “White List”. Internet kembali menyala, tapi hanya untuk kantor pemerintah, media negara, dan institusi resmi. Mereka bisa menyebarkan narasi resmi sambil membungkam suara oposisi.

Mitos yang Runtuh
Kasus Iran membuktikan bahwa tidak ada teknologi yang benar-benar “anti-sensor”. Starlink yang dianggap revolusioner ternyata punya titik lemah yang bisa dieksploitasi dengan teknologi yang relatif sederhana.
Ini menunjukkan wajah perang modern. Bukan lagi soal siapa yang punya peluru terbanyak, tapi siapa yang bisa menguasai spektrum frekuensi radio. Negara yang bisa mengontrol gelombang elektromagnetik akan menguasai medan perang informasi.
Respons Elon Musk
Tim SpaceX dilaporkan bekerja keras mengembangkan solusi, termasuk sistem yang tidak bergantung pada GPS. Tapi ini menjadi permainan kucing dan tikus yang tidak akan pernah berakhir. Setiap kali ada teknologi baru, akan selalu ada cara untuk melawannya.
Kontras Indonesia
Sementara Iran menggunakan teknologi canggih untuk memblokir internet, di Indonesia justru terjadi hal yang kontras. Beberapa minggu lalu, seorang jenderal dengan polos berkata saat membagikan Starlink untuk korban bencana. “Tapi nanti kuotanya, tidak tahu siapa yang bayar!” katanya.
Komentar spontan ini justru menunjukkan pendekatan yang lebih manusiawi terhadap teknologi. Alih-alih memikirkan cara memblokir akses internet, Indonesia justru memikirkan cara memberikan akses kepada yang membutuhkan, meski dengan segala keterbatasannya.
Kesimpulan
Operasi Iran terhadap Starlink adalah peringatan bagi dunia bahwa dalam era digital, kekuasaan tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer konvensional. Kemampuan mengendalikan dan merusak infrastruktur komunikasi menjadi senjata baru yang sama mematikannya dengan rudal atau tank.
Yang terpenting, kasus ini mengingatkan kita bahwa teknologi adalah pisau bermata dua: bisa membebaskan, tapi juga bisa membelenggu. Semuanya tergantung pada siapa yang memegangnya dan untuk tujuan apa.
Penulis: Danny Wibisono





