Bacaini.ID, KEDIRI – Komika Pandji Pragiwaksono me-roasting organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah soal pengelolaan tambang dalam pertunjukan bertajuk Mens Rea. Lawakan itu dilaporkan ke polisi karena dinilai melecehkan organisasi Islam.
Berdasarkan data kepolisian, laporan yang teregister dengan nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 8 Januari 2026 menyebutkan identitas pelapor adalah Rizki Abdul Rahman Wahid, yang mengklaim diri sebagai Presidium Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU).
Menurut catatan yang beredar di media sosial, ia pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DKI Jakarta pada tahun 2021. PMII adalah organisasi mahasiswa yang memiliki keterkaitan historis dengan NU.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla menegaskan bahwa aliansi yang mengatasnamakan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan melaporkan komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya bukan merupakan bagian dari struktur PBNU.
Gus Ulil menyatakan, dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama tidak terdapat lembaga, badan otonom, maupun perkumpulan resmi yang bernama Angkatan Muda NU. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pelaporan tersebut tidak merepresentasikan sikap maupun pandangan PBNU.
“Kalau representasi PBNU jelas tidak,” ujar Gus Ulil, dikutip dari media resmi PBNU, NU Online.
Ia menambahkan, klaim yang mengatasnamakan NU sering dilakukan banyak orang dan umumnya bersifat sementara. Misalnya dalam aksi-aksi tertentu yang melibatkan masyarakat maupun simpatisan NU.
Dampak Klaim NU
Fenomena klaim atas nama NU ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan isu strategis yang menyangkut kredibilitas, kohesi internal, dan citra NU di mata publik. NU bisa kehilangan otoritas moralnya dan semakin dipersepsikan sebagai “brand politik” ketimbang organisasi keagamaan.
Ketika muncul klaim organisasi baru seperti Angkatan Muda NU atau NU Muda, publik awam sulit membedakan mana yang resmi dan mana yang sekadar klaim. Masyarakat bisa salah mengira bahwa kelompok independen mewakili suara NU, padahal tidak ada legitimasi struktural. Hal ini berpotensi menurunkan kredibilitas NU sebagai organisasi besar yang berusia hampir satu abad.
Di lain sisi, klaim independen seperti ini sering muncul dari kalangan muda atau aktivis yang merasa tidak terakomodasi dalam struktur resmi NU. Hal ini bisa memicu ketegangan internal antara generasi muda dan senior, atau antara kelompok independen dengan PBNU.
Polarisasi juga bisa terjadi di tingkat akar rumput, di mana warga NU di daerah bingung apakah harus mengikuti struktur resmi atau mendukung gerakan baru yang mengatasnamakan NU. Hal ini tentu memicu terjadinya fragmentasi organisasi, melemahnya kohesi sosial, dan berkurangnya kekuatan NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Berikut daftar klaim yang dibantah PBNU:

Penulis: Hari Tri Wasono





