Bacaini.ID, KEDIRI – Tudingan Partai Demokrat “berkhianat” berkelindan di ruang politik nasional. Partai ini ditengarai tengah menyiapkan fleksibilitas politik untuk jangka panjang.
Tudingan ini muncul dari sebagian pendukung dan elit Koalisi Prabowo Subianto. Mereka menilai Demokrat tidak “all out” membela pemerintah saat menghadapi kritik dari berbagai pihak.
Kepala Litbang Bacaini.ID, Danny Wibisono mengatakan Partai Demokrat sejak awal bukan partai inti yang mendukung Prabowo. Mereka masuk sebagai late joiner dengan harapan memperoleh akses kekuasaan, posisi strategis, dan pengaruh kebijakan. “Ekspektasi ini yang kemudian menjadi sumber kekecewaan sebagian pihak di dalam koalisi,” kata Danny, Senin, 5 Januari 2026.
Menurutnya, isu pengkhianatan terhadap Demokrat muncul dari tiga hal utama. Pertama, Demokrat dinilai tidak selalu vokal membela pemerintah dan cenderung moderat dibanding partai inti seperti Gerindra dan Golkar.
Kedua,beberapa elite Demokrat menyampaikan kritik terhadap kebijakan tertentu. Dalam kultur politik Indonesia, kritik dari dalam koalisi kerap disalahartikan sebagai pembangkangan. Ketiga, narasi liar menyebut Demokrat tidak puas dengan distribusi kekuasaan sehingga dianggap menahan diri atau bermain dua kaki.
Danny menambahkan, perbedaan mendasar dengan skema Koalisi Perubahan cukup jelas. Saat itu Demokrat adalah pendiri koalisi. Demokrat kemudian keluar setelah terjadi konflik penentuan cawapres.
“Sedangkan di Koalisi Prabowo, Demokrat tidak keluar dan tidak melawan secara struktural. Sehingga tuduhan berkhianat lebih berbasis persepsi loyalitas,” kata Danny.
Ia menilai tudingan ini lebih tepat disebut sebagai masalah pemeliharaan koalisi (coalition maintenance problem). Ada gap ekspektasi antara Demokrat dan partai inti, serta politik loyalitas yang menuntut simbolisme lebih daripada kontribusi nyata. Dalam koalisi besar, partai yang kritis sering dianggap tidak setia, sementara partai yang diam dianggap aman.
Dengan demikian, secara politik maupun konstitusional, Demokrat tidak melakukan pengkhianatan. Demokrat hanya menjaga jarak dari jebakan keterikatan berlebihan pada kekuasaan.
“Mereka menempatkan diri sebagai buffer party yang tidak oposisi namun juga tidak fanatik, sekaligus menyiapkan fleksibilitas politik untuk jangka panjang,” pungkas Danny.
Penulis: Hari Tri Wasono





