Bacaini.ID, KEDIRI – Partai Demokrat membantah keras tudingan yang menyeret nama Ketua Majelis Tinggi Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kasus dugaan ijazah Presiden Joko Widodo.
Melalui pernyataan resmi, Ahmad Khoirul Umam selaku Kepala Badan Riset dan Inovasi Strategis Partai Demokrat menyebut tudingan tersebut sebagai bentuk misinformasi yang berbahaya bagi demokrasi.
Dalam tayangan Kompas TV, Umam menegaskan bahwa tuduhan yang menyebut SBY sebagai dalang kasus ijazah Jokowi tidak berdasar dan berpotensi merusak reputasi serta ruang demokrasi di Indonesia. “Jika fitnah seperti ini dibiarkan, maka tatanan demokrasi tidak akan sehat,” ujarnya.
Sebagai langkah tegas, Partai Demokrat akan melayangkan somasi terhadap sejumlah akun media sosial yang diduga menjadi penyebar fitnah. Menurut Demokrat, tindakan hukum ini penting untuk menjaga integritas politik dan mencegah berkembangnya informasi palsu yang bisa menyesatkan publik.
Kasus ijazah Jokowi sendiri sempat menjadi isu panas di ruang publik, dengan berbagai spekulasi yang beredar di media sosial. Demokrat menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam isu tersebut, dan menilai tuduhan yang diarahkan kepada SBY hanyalah upaya politisasi yang tidak bertanggung jawab.
Langkah Demokrat ini sekaligus menjadi sinyal bahwa partai politik mulai mengambil sikap lebih keras terhadap penyebaran hoaks dan fitnah di era digital. Dengan dominasi media sosial dalam percakapan politik, partai menilai penting untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat dan bebas dari manipulasi informasi.
Tantangan Komunikasi Politik di Era Digital
Kasus di atas menjadi cermin betapa komunikasi politik di era digital menghadapi tantangan serius. Partai Demokrat menilai tuduhan tersebut sebagai fitnah yang berbahaya bagi demokrasi.
Mereka bahkan berencana melayangkan somasi terhadap akun-akun media sosial yang menyebarkan informasi palsu. Langkah ini menandai pergeseran strategi partai politik yang tidak hanya berkampanye di ruang digital, tetapi juga harus aktif melawan hoaks dan misinformasi yang bisa merusak reputasi politik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa politik digital bukan hanya soal kampanye, tetapi juga soal pertahanan reputasi. Media sosial, yang menjadi arena utama bagi Gen Z dan milenial, kini menjadi medan tempur baru bagi partai politik.
Di satu sisi, platform digital memberi peluang besar untuk menjangkau pemilih muda dengan cepat dan interaktif. Namun di sisi lain, media sosial juga membuka ruang bagi penyebaran hoaks, fitnah, dan manipulasi informasi yang sulit dikendalikan.
Hal ini menjadi tantangan terbesar bagi partai politik untuk membangun kepercayaan di tengah banjir informasi. Gen Z, sebagai kelompok pemilih dominan, cenderung kritis dan skeptis terhadap partai politik. Mereka menuntut transparansi, akuntabilitas, dan komunikasi yang jujur. Jika partai gagal merespons dengan tepat, maka risiko kehilangan dukungan dari generasi muda semakin besar.
Kasus tersebut menjadi pelajaran bahwa reputasi politik bisa runtuh hanya karena satu isu viral di media sosial. Oleh karena itu, partai politik dituntut untuk memiliki strategi komunikasi digital yang tidak hanya ofensif (kampanye), tetapi juga defensif (melawan hoaks).
Penulis: Hari Tri Wasono





