Bacaini.ID, KEDIRI – Malam pergantian tahun selalu menjadi ruang ekspresi anak muda. Tradisi membakar jagung dengan arang kayu, ditemani gitar dan nyanyian bersama, dulu menjadi simbol kebersahajaan sekaligus kebersamaan.
Namun perayaan tahun baru kali ini memperlihatkan wajah baru. Jagung digantikan sosis dan bakso instan, arang digantikan kompor gas portable, gitar digantikan playlist Spotify.
Fenomena ini mencerminkan gaya hidup generasi muda yang semakin praktis. Jagung dan arang membutuhkan waktu dan tenaga, sementara sosis instan dan kompor gas lebih cepat dan efisien.
Pergeseran ini menunjukkan bagaimana budaya konsumsi anak muda kini lebih menekankan kecepatan dan kenyamanan, sejalan dengan tren “serba instan” dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan dari gitar ke Spotify juga menandai transformasi budaya musik. Jika dulu gitar menjadi medium interaksi sosial, menyatukan suara dan emosi dalam lingkaran kecil, kini musik digital menghadirkan hiburan yang lebih personal, terkurasi, dan global. Anak muda tidak lagi terbatas pada lagu yang bisa dimainkan teman, tetapi bebas memilih jutaan lagu sesuai mood.
Tradisi lama yang penuh kebersahajaan perlahan bergeser ke arah modernitas. Namun, esensi kebersamaan tetap ada; anak muda masih berkumpul, masih berbagi momen, hanya dengan cara yang lebih sesuai dengan zaman.
Pergeseran ini bisa dibaca sebagai simbol perubahan sosial, dari komunitas berbasis tradisi lokal menuju komunitas yang terhubung dengan budaya global.
Perayaan tahun baru bukan sekadar pesta, melainkan cermin dinamika budaya. Jagung bakar dan gitar mungkin akan tetap hidup sebagai nostalgia, tetapi sosis instan dan Spotify kini menjadi tanda generasi baru yang tumbuh dalam era digital dan serba cepat.
| Periode | Tradisi Utama | Simbol Budaya | Makna Sosial |
| 1990-an – awal 2000-an | Membakar jagung dengan arang kayu | Kesederhanaan, hasil bumi lokal | Kebersamaan, gotong royong, suasana hangat di halaman rumah |
| 2000-an – 2010-an | Jagung bakar + gitar akustik | Musik live, interaksi langsung | Ekspresi kreatif, memperkuat ikatan sosial lewat nyanyian bersama |
| 2010-an – 2020-an | Mulai muncul variasi makanan (ayam, ikan, bakso) | Eksperimen kuliner sederhana | Adaptasi selera, tetap mempertahankan kebersamaan |
| 2020-an – kini | Sosis, bakso instan, dipanggang dengan kompor gas portable | Budaya instan, praktis, digitalisasi hiburan (Spotify, YouTube) | Efisiensi, gaya hidup modern, kebersamaan tetap ada tapi lebih individual dan global |
Penulis: Hari Tri Wasono





