Bacaini.ID, KEDIRI – Jika masih menganggap fenomena atau misteri UFO (Unidentified Flying Object) hanya sebuah lelucon, sebaiknya pikirkanlah ulang.
Para ilmuwan kini mulai serius meneliti fenomena UFO atau juga disebut UAP (Unidentified Aerial/Anomalous Phenomena) dan menganggapnya sebagai penelitian ilmiah akademis yang sah dan layak mendapat liputan serius oleh media.
Perdebatan serius tentang UFO oleh para ilmuwan dipicu makalah baru dari data teleskop lawas Palomar di California yang menampilkan kilatan cahaya misterius 70 tahun lalu.
Baca Juga:
- Detik-detik Penampakan Benda Diduga UFO di Langit Tulungagung Jelang Pergantian Tahun Baru 2024
- Misteri 3I/ATLAS yang Dispekulasikan Alien dan Ramalan Baba Vanga
- Penemuan Rafflesia Hasseltii Bikin Ilmuwan Histeris, Ada Apa?
UFO dan Nuklir Saling Terhubung?
Para ilmuwan kesulitan menjelaskan mengenai fenomena yang diteliti oleh Stephen Bruehl, seorang ahli anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt Tennessee dan Beatriz Villarroel, astronom di Institut Fisika Teoritis Nordik Swedia dalam dua makalah mereka yang telah diverifikasi.
Dua makalah baru yang telah melalui tinjauan sejawat, mengklaim bahwa ribuan kilatan cahaya yang tidak dapat dijelaskan dalam gambar teleskop lawas Palomar, menunjukkan hubungan statistik dengan uji coba nuklir dan laporan penampakan UFO.
Tidak semua ilmuwan setuju dengan kesimpulan makalah tersebut, namun fenomena UFO tidak dapat diabaikan lagi.
Lebih dari 70 tahun yang lalu, para astronom di Observatorium Palomar California memotret beberapa kilatan mirip bintang yang muncul dan menghilang dalam waktu satu jam, beberapa tahun sebelum satelit pertama, Sputnik 1, diluncurkan ke orbit.
Penelitian terbaru meninjau kembali lempeng-lempeng langit pertengahan abad tersebut dan melaporkan bahwa titik-titik kilatan cahaya yang disebut transien, muncul pada atau mendekati tanggal uji coba senjata nuklir Perang Dingin dan bertepatan dengan lonjakan laporan penampakan UFO.
Nuklir dan aktivis UFO ditengarai memiliki kaitan yang hingga kini masih terus diteliti.
Meskipun transien tersebut bisa jadi adalah fenomena alam seperti bintang variabel, meteor atau lainnya, namun gambar yang ditangkap Palomar memiliki keanehan.
Beberapa bentuk tajam seperti titik yang tampak berbaris dalam garis lurus, diyakini bukanlah hal yang alami.
Namun jika transien tersebut adalah objek buatan reflektif yang mengorbit sebelum Sputnik, pertanyaannya adalah siapa yang menempatkannya di sana, dan mengapa mereka tampaknya tertarik pada uji coba nuklir.
Namun peneliti lain juga berpendapat bahwa keterbatasan teknologi saat itu bisa menjadi sebab data yang didapat sulit untuk ditafsirkan.
Data penelitian terbaru mengenai fenomena ini menunjukkan bahwa penampakan UFO memiliki kemungkinan 45% lebih besar terjadi dalam jangka waktu 24 jam setelah uji coba nuklir di atas tanah yang dilakukan oleh AS, Uni Soviet, dan Inggris Raya.
Dan bahwa setiap laporan UFO tambahan pada hari tertentu berhubungan dengan peningkatan 8,5% dalam penampakan sebelumnya.
Analisis yang dipublikasikan pada 20 Oktober lalu di jurnal Scientific Reports menggambarkan hal ini sebagai ‘hubungan yang melampaui peluang’ antara transien, uji coba nuklir, dan laporan UFO.
Menurut para peneliti, temuan ini menggemakan spekulasi lama bahwa makhluk luar angkasa mungkin tertarik pada aktivitas nuklir manusia, meskipun para penulis menekankan bahwa data tersebut tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat.
Pro Kontra Fenomena UFO
Pada sisi lain para ilmuwan juga mempertanyakan bagaimana jika justru sebaliknya? Beberapa pakar berpendapat bahwa kilatan cahaya dan mungkin beberapa penampakan UFO yang dilaporkan, merupakan produk sampingan dari ledakan nuklir itu sendiri.
Michael Wiescher, astrofisikawan nuklir di Universitas Notre Dame di Indiana, mengatakan kepada Scientific American bahwa ledakan semacam itu dapat menyuntikkan puing-puing logam dan debu radioaktif ke atmosfer atas, yang kemudian dapat terlihat sebagai semburan cahaya singkat seperti bintang melalui teleskop.
Namun Villarroel dan Bruehl membantah dengan mengatakan bahwa pancaran radiasi atau kontaminasi jatuhan meteorit akan menghasilkan noda atau garis-garis yang menyebar, bukan titik-titik seperti bintang yang terlihat di lempeng langit Palomar.
Dikutip dari Live Science, para peneliti sepakat bahwa analisis independen sangat penting, dan beberapa mengusulkan peninjauan ulang data historis yang sama dan arsip-arsip lain dari plat yang dipindai dari observatorium yang aktif sebelum tahun 1957, idealnya dari Belahan Bumi Utara dan dengan citra deret waktu yang lengkap seperti yang berasal dari Palomar.
Meninjau kembali plat Palomar asli dan melakukan pemeriksaan ‘forensik’ mikroskopis dapat membantu menentukan apakah transien yang dilaporkan benar-benar muncul.
Apakah kilatan misterius ini terbukti sebagai bukti UFO, teknologi militer rahasia, atau sekadar artefak proses pencitraan masa lalu?, perdebatan di kalangan ilmuwan masih terus berlangsung.
Hal ini menunjukkan bagaimana sains menyelidiki hal yang tidak diketahui dan menguji hal yang luar biasa.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





