• Login
Bacaini.id
Tuesday, March 3, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Pengalaman Makan Rujak Cirebon yang Lebih Egaliter Dibanding Rujak Surabaya

ditulis oleh Redaksi
10 November 2025 08:24
Durasi baca: 3 menit
Rujak Kangkung khas Cirebon. Foto: bacaini/Hari Tri Wasono

Rujak Kangkung khas Cirebon. Foto: bacaini/Hari Tri Wasono

Bacaini.ID, CIREBON – Ketika mendengar kata ‘rujak’, maka yang muncul pasti rujak cingur dengan aroma petis, atau rujak buah yang segar.

Namun jangan berharap gambaran itu tepat ketika mendengar kata ‘rujak’ di Kabupaten Cirebon. Menu rujak di sini tidak sama dengan rujak di Jawa Timur, kecuali daun kangkung dan kecambah.

Pengalaman berburu kuliner di Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Waled Asem, Kecamatan Waled, memberi pengetahuan baru tentang rujak. Ketika mendapat tawaran dari pemilik rumah saat bertamu, aku langsung mengiyakan.

“Yuk makan rujak, enak sambalnya,” kata Miftah, temanku yang lahir dan besar di Desa Waled, Minggu, 9 November 2025.

Kebayang sayuran dan cingur (daging mulut sapi) yang diguyur sambal petis, dengan irisan tahu dan tempe yang gurih. Apalagi jika ada kerupuk dan segelas es teh sebagai pelengkap, sungguh nikmat mana yang engkau dustakan.

Perjalanan dari ruang tamu menuju meja makan terasa cepat. Apalagi air liur di sudut bibir sudah meronta-ronta ingin bercumbu dengan bumbu rujak.

Mendekati meja makan, bola mataku mulai menyapu sekeliling. Ada yang aneh dengan tempat makan ini. “Mana rujaknya,” batinku.

Masih berpikir Miftah akan mengeluarkan satu set rujak dari lemari makan, aku menarik kursi dan meletakkan pantat di sana. Hingga tiba-tiba suara Miftah meruntuhkan harapanku. “Ayo silahkan, tuh piringnya di sana, enak ini rujaknya,” katanya sambil mengambil sayur kangkung dan kecambah di atas piring.

Sayur dan kecambah itu direbus setengah matang, sehingga masih menyisakan teksturnya yang agak keras dan kenyal. Sementara di sampingnya tampak satu mangkuk sambal cabe berwarna merah. “Ini sambal terasi ya,” tanyaku.

Miftah mengangguk. Deg………habis sudah harapanku menyantap rujak cingur.

Entah karena menangkap kebingunganku dengan makanan di atas meja, Miftah mengambil piring dan meletakkan beberapa helai daun kangkung dan kecambah di atasnya. Selanjutnya ia menyodorkan mangkuk berisi sambal terasi agar aku mengambil sendiri.

“Sambal di sini beda dengan sambal di Kediri, di sini sambalnya gak pedes sama sekali,” tambah Miftah.

Tanpa ragu aku mengambil tiga sendok makan sambal porsi penuh, dan kutuangkan ke atas sayuran. Sebab aku tergolong penyuka makanan pedas.

Setelah mengucap Bismillah, aku memasukkan kangkung, kecambah dan sambal ke dalam mulut sekaligus. Sesuap dua suap berlangsung mulus di kerongkongan.

Namun masuk suapan ketiga, mulut terasa terbakar. Menjalar hingga ke tenggorokan, hingga memicu reaksi usus untuk bergerak lebih cepat. Sambal yang disebut Miftah “di bawah” sambal Kediri, ternyata pedasnya minta ampun.

Kampret. Dua kali kena prank.

Dengan tabah kuselesaikan sesi makan siang itu dengan memperbanyak ngemil tempe goreng. Untungnya tempe goreng buatan perajin Desa Walid sangat enak, sehingga membantu mengalihkan rasa pedas yang gila.

“Kenapa, pedas ya? Tuh ada teh hangat, biar pedasnya ilang,” kata Miftah sambil mengunyah kangkung.

Buru-buru aku tuangkan teh dari teko ke dalam gelas dan meminumnya. Rasanya hambar, gak ada manis-manisnya sama sekali. Aku baru nyadar kalau di sini posisi teh tawar sama dengan air putih. Ketika ingin meminum teh dengan tambahan gula, harus bilang “teh manis”.

Kampret. Tiga kali kena prank.

Usai makan, Miftah menceritakan jika rujak di sini beda dengan rujak di Jawa Timur. Mereka menyebut makanan ini sebagai “rujak kangkung”.   

Rujak kangkung adalah kuliner khas Cirebon. Menu ini sering dinikmati bersama kerupuk melarat dan gorengan. Sejumlah literatur kuliner menyebut hidangan ini populer sebagai camilan atau pelengkap makan siang, terutama di warung tradisional dan pasar lokal.

Bahan utamanya hanyalah kangkung segar yang direbus sebentar agar tetap renyah dan hijau. Sedangkan sambal rujaknya dibuat dari campuran cabai rawit, terasi bakar, gula merah, asam jawa, garam, dan sedikit air. Beberapa versi menambahkan petis udang dan kecap manis untuk rasa yang lebih berwarna.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: cirebonmakanan khas cirebonrujakrujak kangkung
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin saat refleksi 1 tahun pemerintahan di Monumen PETA tanpa kehadiran Wakil Wali Kota

Tanpa Wawali Blitar, Mas Ibin ‘Pamer’ 70 Prestasi di Refleksi 1 Tahun

Puluhan disabilitas geruduk Kantor Dinsos Tulungagung memprotes bansos BPNT dan PKH yang tidak cair

Puluhan Disabilitas Geruduk Dinsos Tulungagung, Bansos BPNT dan PKH Mandek Hingga Setahun

Kalender Maret 2026 menampilkan jadwal libur sekolah Lebaran mulai 16–27 Maret, termasuk libur nasional Hari Suci Nyepi dan Idul Fitri serta rangkaian cuti bersama

Libur Sekolah Lebaran 2026 Dimulai 16 Maret, Cek Rangkaian Cuti Bersama dan Libur Nasional

  • Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin saat refleksi 1 tahun pemerintahan di Monumen PETA tanpa kehadiran Wakil Wali Kota

    Tanpa Wawali Blitar, Mas Ibin ‘Pamer’ 70 Prestasi di Refleksi 1 Tahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puluhan Disabilitas Geruduk Dinsos Tulungagung, Bansos BPNT dan PKH Mandek Hingga Setahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pensiunan Polisi di Blitar Tewas Tergantung di Gudang Rumah, Diduga Ada Masalah Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In