• Login
Bacaini.id
Monday, June 29, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Merasa Sepi di Tengah Keramaian? Ini Sebabnya

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
1 January 2025 05:00
Durasi baca: 3 menit
Merasa Sepi di Tengah Keramaian? Ini Sebabnya. (foto ilustrasi/freepik)

Merasa Sepi di Tengah Keramaian? Ini Sebabnya. (foto ilustrasi/freepik)

Bacaini.ID, KEDIRI – Pernah merasa kesepian di tengah keramaian? Perasaan terasa hampa meski di sekitar penuh kegembiraan.

Dikutip dari Mind Clear Psycotheraphy, penelitian terbaru Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, menyoroti apa yang membuat seseorang merasa kesepian.

Para peneliti berpendapat bahwa kesepian berkaitan dengan kualitas hubungan seseorang.

Seseorang yang kesepian walaupun memiliki banyak teman atau saudara, menunjukkan emosional mereka tidak mampu terhubung baik dengan sekitarnya.

Berikut beberapa hal yang menjadi faktor penyebab:

Riwayat Trauma

Individu yang memiliki tingkat kesepian tinggi, biasanya pernah mengalami peristiwa traumatis masa lalu. Baik saat kanak-kanak, remaja, maupun usia dewasa.

Pengalaman seperti ini tidak hanya berdampak pada rasa aman seseorang, namun juga membentuk persepsi seseorang mengenai hubungan, kepercayaan terhadap orang lain, perasaan akan diri sendiri dan kelayakannya.

Ketika seseorang mengalami trauma atau disakiti berulang kali, dia akan sulit percaya pada orang lain. 

Keterikatan Orang Tua yang Buruk

Attachment theory atau teori keterikatan berpendapat bahwa hubungan keterikatan yang kita miliki dengan orang tua cenderung terulang dalam hubungan penting lainnya.

Jika kita merasa diabaikan, tidak diakui, atau merasa kebutuhan kita tidak terpenuhi, kemungkinan besar kita mengharapkan hal ini dari orang lain, dan memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Ketika ikatan orang tua mengakibatkan keterikatan yang tidak aman, cenderung ada perasaan kronis bahwa ada sesuatu yang hilang.

Akibatnya secara tidak sadar kita menjadi percaya tidak layak mendapatkan cinta atau bahkan tidak tahu cara dekat dengan orang lain. 

Takut pada Keintiman dan Rasa Terluka

Saat tumbuh dewasa semua orang belajar bagaimana bertahan hidup di dunia yang terkadang kejam.

Ketika seseorang mengalami bullying atau mengalami penolakan perasaannya dan patah hati, sebuah pesan mulai terbentuk bahwa tidak aman untuk menjadi diri sendiri.

Alam bawah sadar akan melindungi diri kita dari rasa sakit hati. Mulailah kemudian kita sulit percaya kepada orang lain, menjaga jarak dan sulit mempercayai kasih sayang yang tulus. 

Terjebak dalam Narasi Palsu

Riwayat trauma, rasa sakit, dan penolakan dapat menimbulkan narasi yang menyimpang dan menyakitkan tentang diri sendiri.

Kebanyakan orang belajar sejak usia muda bahwa ada bagian dari diri mereka yang tidak dapat diterima, memalukan, atau sekadar “buruk”.

Ini akan memunculkan ego yang merasa selalu benar, hingga terus tertantang untuk membuktikan kebenaran kita walaupun kenyataannya hal tersebut merugikan diri sendiri.

Selama kita yakin diri sendiri atau orang lain tidak berharga, tidak peduli berapa banyak orang yang kita miliki dalam hidup, kita akan selalu merasa sendirian.

Standar Media Sosial dan Fenomena Masyarakat yang Hilang

Sangat sulit untuk benar-benar terhubung dengan orang lain ketika seseorang tertutup dan enggan mengungkapkan jati dirinya.

Selain itu, ada banyak faktor sosial lain yang berkontribusi terhadap kesulitan luar biasa dalam berhubungan secara emosional dengan orang lain.

Teknologi dan media sosial dianggap sebagai faktor utama dalam epidemi kesepian saat ini. Namun, penelitian masih beragam mengenai hal ini.

Orang lebih asyik menggunakan ponselnya daripada berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Standar hidup mengikuti apa yang ada di media sosial. Ini yang membuat banyak orang merasa seringkali kesepian. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: keramaianproblem psikologissepitrauma
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Warah Atikah, SH., M.Hum.

Jember Peduli Sampah: Antara Tantangan dan Harapan Menuju Pengelolaan Sampah Mandiri 

Presiden Prabowo Subianto pada penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada Minggu, 28 Juni 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Kritik Kerja BUMN, Presiden: Tidak Untung Hanya Bayar Overhead

Ilustrasi aplikasi Gojek

Pembatalan Pesanan Gojek Kini Dikenakan Denda

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In