• Login
Bacaini.id
Thursday, May 7, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Cerita Pala, Buah Emas Pemicu Kolonialisme di Nusantara

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
23 October 2024 10:28
Durasi baca: 3 menit
Cerita Pala, Buah Emas Pemicu Kolonialisme di Nusantara. (foto ilustrasi wikipedia dan freepik)

Cerita Pala, Buah Emas Pemicu Kolonialisme di Nusantara. (foto ilustrasi wikipedia dan freepik)

Bacaini.ID, KEDIRI – Buah Pala merupakan rempah asli Nusantara. Memiliki nama ilmiah Myristica fragrans dan disebut juga dengan nutmeg, rempah ini adalah harta karun dunia pada masanya.

Sebegitu pentingnya Pala sehingga menjadi komoditas utama perdagangan sejak jaman Romawi.

Pohon Pala berasal dari Kepulauan Banda, Maluku. Penghasil pala terbaik di Indonesia bahkan dunia adalah Pulau Siau, pulau yang berada di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara.

Buah pala yang cantik di tanah asalnya disebut dengan buah emas, lantaran warnanya akan berubah kuning keemasan dan merekah ketika tiba waktunya dipanen.

Tak ada yang terbuang dari buah pala. Semua bagian bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi.

Mulai dari daging buah bisa diolah jadi manisan, asinan, dodol, selai dan sirup. Fuli atau salut bijinya yang berwarna merah dimanfaatkan sebagai rempah, sama seperti bijinya.

Pada abad ke-6 Masehi, pala menyebar ke India, kemudian ke Konstantinopel, dan menjadi mitos di belahan bumi lain.

Pada abad ke-13, para pedagang Arab berhasil mengetahui asal-usul pala, yaitu di belahan timur pulau-pulau Nusantara, tapi mereka merahasiakan lokasi ini dari para pedagang Eropa.

Barulah ketika Portugis mendatangi Asia Tenggara, pedagang-pedagang Eropa mendapati lokasi utama pala berasal.

Pala mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perdagangan rempah-rempah global.

Di antaranya memicu Era Eksplorasi, zaman penjelajahan bangsa Eropa untuk mencari kekayaan alam dan ilmu pengetahuan, dan memainkan peran penting dalam Perang Rempah pada tahun 1600-an.

Pada tahun 1500-an, Banda memiliki perdagangan ekspor-impor yang berkembang pesat dengan komoditi pala dan cengkeh yang menjadi andalan utama.

Saat itu perdagangan rempah dikuasai oleh Portugis dengan membeli rempah pada penduduk Banda. Sampai kemudian VOC melancarkan serangan berdarah pada penduduk kepulauan Banda pada tahun 1621 untuk memonopoli produksi dan perdagangan pala.

Dari sinilah sejarah Perang Rempah bermula dan itu melibatkan Portugis, Inggris dan Belanda.

Ketika Inggris mengambil alih Kepulauan Banda dari kekuasaan Belanda, mereka memindahkan perkebunan pala ke Sri Lanka, Penang, Bengkulu dan Singapura.

Pohon-pohon pala pun menyebar ke wilayah-wilayah jajahan Inggris lainnya.

Pala, buah kecil nan cantik ini sangat berharga dan mahal, mendatangkan kemakmuran sekaligus pemicu peperangan.

Pala jadi rebutan bangsa-bangsa di dunia lantaran manfaatnya yang besar. Selain sebagai rempah dalam kuliner lintas benua, pala juga memiliki manfaat medis, utamanya untuk pengobatan tradisional.

Minyak atsiri dari pala berperan besar dalam dunia industri parfum dan farmasi.

Pala hingga kini tetap jadi salah satu rempah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Tercatat harga pala di pasaran berkisar antara Rp 200-300 ribu per kilogram.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif 

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: Bandabuah emaskolonialismenusantarapalaperdagangan palasejarah pala
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Tampilan aplikasi Friendster terbaru di iPhone dengan konsep media sosial anti algoritma dan desain minimalis

Friendster Kembali Hadir, Media Sosial Anti Algoritma yang Bikin Anak Warnet Nostalgia

Ratusan anggota PSHT Kabupaten Blitar menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Blitar dengan mengenakan pakaian hitam dan membawa poster tuntutan

PSHT Kabupaten Blitar Gelar Aksi Damai, Desak Pemda dan Polisi Tertibkan Kelompok Ilegal

Ilustrasi bunuh diri. (foto/ist)

Pusiknas Polri Ungkap Kasus Bunuh Diri di Indonesia Meningkat

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kedatangan KPK ke Blitar Picu Rumor OTT, Jubir Pastikan Hanya Sosialisasi Pencegahan Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In