Bacaini.id, TULUNGAGUNG – Setelah seorang warga meninggal akibat leptospirosis, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung melakukan penyelidikan epidemologi dengan mengambil sampel urin sapi serta ginjal tikus di sekitar rumah korban. Hasilnya, salah satu ginjal tikus yang dijadikan sampel, positif mengandung bakteri leptospirosis.
Pada 7 November 2022 lalu, pihak RSUD dr Iskak Tulungagung menyatakan adanya seorang pasien asal Desa Pandansari, Kecamatan Ngunut meninggal dunia akibat leptospirosis. Pasien tersebut disebut terlambat mendapatkan pertolongan karena pihak keluarga mengira hanya penyakit biasa.
Akhirnya pada saat korban dibawa ke RSUD dr Iskak Tulungagung, korban hanya bisa bertahan selama dua hari saja sebelum menghembuskan nafas terakhir. Saat diperiksa, di tubuh pasien ditemukan tanda-tanda leptospirosis, seperti demam tinggi, kulit berwarna kuning, mata merah, otot nyeri, kulit ruam hingga betis terasa sakit.
Dari kejadian itu, akhirnya Dinkes Tulungagung langsung melakukan penyelidikan epidemologi di sekitar rumah korban. Pihaknya juga telah mengambil beberapa sampel urin sapi serta ginjal tikus, karena bakteri leptospirosis dapat ditularkan melalui urin hewan tikus ataupun hewan lain yang terpapar urin tikus.
“Dua minggu lalu kami sudah mengambil sampel urin sapi dan ginjal tikus di sekitar rumah korban. Sampel yang sudah diambil lalu kami teliti di dalam lab, untuk mengetahui apakah ditemukan bakteri leptospirosis,” ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, Didik Eka kepada Bacaini.id, Jumat, 25 November 2022.
Menurut Didik, dari sampel yang diteliti, tidak ditemukan bakteri leptospirosis pada urin sapi. Akan tetapi, pihaknya menemukan bakteri leptospirosis pada sampel ginjal tikus yang diambil di sekitar rumah korban.
“Dugaan kami, pasien tertular bakteri leptospirosis dari ginjal tikus ini hingga mengakibatkan pasien meninggal dunia,” terangnya.
Lebih lanjut, dari temuan tersebut, Dinkes Tulungagung tengah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan, Dinas Pertanian serta Pemerintah Desa Pandansari untuk melakukan pengendalian populasi tikus. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir penularan leptospirosis.
“Salah satu cara meminimalisir penularan leptospiroris itu dengan cara melakukan pengendalian populasi tikus. Tapi saat ini kami masih melakukan koordinasi,” pungkasnya.
Penulis: Setiawan
Editor: Novira





