Bacaini.id, KEDIRI – Seorang pasien rumah sakit di Kabupaten Kediri ngotot minta pindah dari kamarnya. Dia merasa diganggu makhluk halus saat bermalam di kamar tersebut.
Kisah seram ini dialami Munarman, warga Kecamatan Gampengrejo yang mengalami serangan jantung saat beraktivitas di rumah. Dia dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami sesak nafas.
Tiba di rumah sakit, Munarman ditangani dokter di Instalasi Gawat Darurat. Usai menjalani pemeriksaan dan rekam jantung, dia dinyatakan terkena serangan jantung dan diharuskan rawat inap.
Awalnya Munarman menolak untuk menjalani rawat inap. Dia meminta obat untuk rawat jalan di rumah dengan dalih tak bisa tidur di rumah sakit. Namun karena kondisinya yang mengkhawatirkan, keluarganya meminta Munarman mengikuti saran dokter.
Malam itu Munarman tak langsung dipindahkan ke kamar rawat inap. Dia harus berbaring dengan selang oksigen dan infus di ruang IGD untuk beberapa lama. Sebagai pasien BPJS, pengurusan administrasi rawat inap tak bisa berlangsung cepat. Pensiunan guru sekolah dasar itu harus menunggu beberapa jam bersama pasien lain di ruang itu.
“Mari saya antar ke kamar, Pak,” kata seorang perawat setelah beberapa saat. Masih dengan posisi berbaring, ranjangnya didorong dua perawat pria meninggalkan ruangan IGD yang ramai. Sepintas dia melihat istrinya berjalan membuntuti di belakang.
Munarman merasa perjalanan menuju kamar inap terasa jauh. Beberapa kali dia melewati kelokan dan tanjakan di lorong rumah sakit. Matanya hanya bisa menatap atap rumah sakit dan lampu yang putih bersih.
Setelah berjalan beberapa lama, iring-iringan brankar yang membawa tubuh Munarman tiba di sebuah kamar rawat inap pasien dewasa. Kamar itu tak terlalu besar, namun terlihat nyaman dengan hanya satu tempat tidur. Sebagai pasien kelas satu BPJS, Munarman berhak mendapat fasilitas kamar inap sendiri.
Pelan-pelan perawat memindahkan tubuhnya ke atas kasur kamar yang empuk. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Munarman sempat melihat sekeliling kamarnya yang tak banyak benda selain meja dan kursi.
Setelah memastikan selang infus dan oksigen berfungsi normal, petugas meninggalkan Munarman dan istrinya di kamar. “Kalau ada apa-apa silahkan ke kantor, dekat kok, di ujung lorong ini,” kata salah satu perawat.
Untuk sesaat Munarman berusaha beradaptasi dengan kamar barunya. Dia melihat kamar mandi berada di dekat pintu keluar. Di luar kamar terdengar lalu lalang orang.
“Pak, aku keluar sebentar nyari makanan. Dari tadi sore belum makan, bapak juga,” kata istrinya. Munarman mengangguk sambil membetulkan masker oksigen agar tetap rapat.
Sepeninggal istrinya, ruangan kamar itu terasa senyap dan sepi. Suara orang berjalan di luar kamar juga tak terdengar lagi. Munarman berusaha memejamkan mata.
Karena tak kunjung bisa terlelap, dia kembali membuka mata. Saat itulah jantungnya nyaris berhenti.
Dia melihat ruangan kamarnya dipenuhi anak kecil. Mulai pintu masuk hingga dekat tempat tidurnya. Mereka bermain-main seperti layaknya anak kecil yang sedang berkumpul. Tak ada satupun yang mempedulikan Munarman yang terbaring di atas ranjang.
Kaget dengan situasi itu, Munarman menguatkan diri untuk bangun. Setelah melepas masker oksigen, dia membawa botol infus keluar kamar. Bermaksud melaporkan anak-anak itu ke petugas jaga. “Ini bagaimana ceritanya banyak anak kecil di kamar,” pikir Munarman.
Namun saat membuka pintu kamar, dia melihat keramaian lebih besar di lorong rumah sakit. Banyak sekali orang yang berjalan sambil mencari dirinya. Mereka memanggil-manggil nama Munarman berulang kali.
Karena takut, Munarman kembali menutup pintu. Dia duduk di tempat tidur dan memilih melihat anak-anak itu bermain di kamarnya. Ruangan itu terasa makin sempit dengan banyaknya anak kecil.
Karena kelelahan, dia membaringkan tubuh ke ranjang dan memejamkan mata. Saat membuka kembali, seluruh anak-anak itu sudah hilang. Tak ada lagi suara mereka yang riuh. Untuk kedua kalinya Munarman dibuat senam jantung.
Malam itu juga dia meminta istrinya mengurus kepindahan ke kamar lain. Dia tak mau berlama-lama di kamar itu. Akhirnya Munarman dipindahkan ke kamar VIP dengan konsekuensi membayar sendiri.
Hingga esok harinya Munarman masih mengingat peristiwa yang dialami di kamar lamanya. Sampai-sampai dia tidak menyadari jika dokter yang merawatnya datang berkunjung. “Bagaimana Pak, sudah agak baikan?” tanya dokter itu.
Munarman tersenyum kecut. Dokter itu menanyakan alasan kepindahannya dari kamar sebelumnya. Dengan ragu Munarman menceritakan peristiwa yang dialaminya kemarin malam.
Dokter itu tertawa keras. Reaksi yang tidak diduga oleh Munarman usai menyelesaikan cerita horornya. “Bapak bukan pasien pertama yang minta pindah dari kamar itu. Sebelumnya pasien saya juga minta pindah dari sana,” katanya.
Dia menceritakan jika pasien itu tiba-tiba minta pindah setelah sehari dirawat di kamar tersebut. Saat ditanyakan alasannya, pasien itu justru menunjuk ke arah belakangnya. “Dia yang menyuruh saya pindah. Dia lagi tersenyum di belakang Pak Dokter,” kata pasien itu.
Dokter itu sempat menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang yang dimaksud. Namun hanya ada dia, dua perawat pendamping, dan pasien tersebut. Sontak perawat perempuan yang menemani kunjungan bergidik ketakutan.
Tak hanya itu, pasien lain juga pernah kedapatan sedang tarik menarik selimut. Anehnya, meski terlihat bergerak, tak nampak seseorang atau sesuatu yang menarik selimutnya. Demikian pula kelambu kamarnya yang kerap membuka dan menutup sendiri. Rupanya kamar itu memang dikenal berhantu.
Penulis: HTW
Tonton video: