Bacaini.id, TRENGGALEK – Sebanyak 50 orang petani di Trenggalek sukses membudidayakan jahe merah. Bahkan kini, hasil panen jahe merah mereka dikirim ke sebuah perusahaan farmasi berskala nasional.
Para petani tersebut berasal dari Desa Pule, Desa Pakel dan Desa Jombok, Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. Mereka berhasil meningkatkan produktivitas secara signifikan dengan menggarap lahan pertanian dengan luas sekitar delapan hektar.
Ketua Bumdesma Sari Bumi, Hari Subianto mengatakan proses penanaman dan produksi jahe merah dilakukan sesuai SOP mulai dari proses pembibitan, penanaman, perawatan hingga penanganan pasca panen dan secara langsung dibimbing oleh perwakilan perusahaan farmasi.
Menurut Hari, beberapa tahun lalu dengan menggunakan model tanam konvensional, para petani hanya mampu menghasilkan sekitar 5-6 kilogram jahe merah dari satu kilogram bibit yang ditanam.
“Kini, produktivitas meningkat antara 2-3 kali lipat. Jadi dari satu kilogram bibit sekarang mampu menghasilkan 12-14 kilogram jahe merah,” kata Hari kepada Bacaini.id, Jumat, 12 Agustus 2022.
Jika dikonversi menjadi ukuran lahan, hasil itu setara dengan 13-14 ton jahe merah basah per hektare lahan. Selain itu, peningkatan produktivitas itu pun cukup membantu para petani dari sisi ekonomi.
Adanya hasil panen yang lebih melimpah, para petani juga mendapat kepastian harga jual yang stabil senilai Rp7.000 per kilogram jahe merah basah. Dengan harga itu, petani jahe merah di Kecamatan Pule bisa meraup untung bersih sekitar Rp8 juta per hektare lahan.
“Saat ini harga di pasaran pada umumnya masih Rp 3.000/kilogram. Harga jahe merah sendiri pernah mencapai Rp120 ribu per kilogram. Itu tahun 2020, waktu awal pandemi,” sebutnya.
Sementara itu, Head of Commmersialization BINA PT Bintang Toedjoe, Lidya Warjaya, mengatakan dengan pengawasan yang ketat, saat ini kualitas jahe merah produksinya sudah lolos kualifikasi dan diterima oleh perusahaan.
“Kami juga menggandeng badan riset hingga beberapa kampus ternama untuk menghasilkan benih jahe merah yang terstandarisasi,” jelas Lidya.
Menurutnya, dalam pembudidayaan jahe merah, keberadaan lahan di dataran tinggi menjadi syarat utama. Sebab tumbuhan tersebut hanya bisa ditanam di dataran tinggi dengan kondisi tanah berpasir.
“Lokasi lahan wajib diperhatikan dan saat ini setiap satu bulannya, kebutuhan jahe merah di tempat kami sekitar 10 ton dalam bentuk simplisa,” pungkasnya.
Penulis: Aby
Editor: Novira