Bacaini.id, SUMENEP – Pulau Sabuntan adalah salah satu wilayah kepulauan di Kecamatan Sepekken, Kabupaten Sumenep. Perjalanan menuju pulau kecil ini tak cukup mudah. Butuh sedikitnya dua jam perjalanan dari Dermaga Kangayan yang melewati jalan berbatu.
Tak berhenti di situ. Etape selanjutnya adalah menyeberangi laut selama satu jam menggunakan perahu kecil menuju Pulau Sabuntan. Perjalanan ini terasa cukup berat mengingat kondisi perut yang terus dihajar gelombang. Mulai gelombang batu di jalan rusak hingga gelombang laut.
Beruntung rute panjang itu berujung bahagia. Ratusan warga menyambut kedatangan Bacaini.id yang mengiringi Mathur Husyairi, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dalam kunjungan reses III. Tarian Tombak ditampilkan di sudut dermaga demi menghormati tamu mereka.
Tak banyak penduduk yang menghuni Pulau Sabuntan. Tercatat hanya 1.324 jiwa warga yang berdiam di sana, dengan bahasa pergaulan Bahasa Bajo. Meski terpisah laut, status kependudukan mereka masuk sebagai warga Kabupaten Sumenep.
Selain bahasa sehari-hari yang berbeda, konstruksi rumah mereka juga tak sama dengan masyarakat Sumenep. Di sini warga membangun rumah mereka berbentuk panggung dari kayu.
baca ini Serba Terbatas di Kepulauan Kangean
Kedatangan Mathur Husyairi di tempat mereka, 1 November 2021, dimanfaatkan dengan baik oleh warga Sabuntan untuk menyampaikan persoalan. Mulai soal keterbatasan fasilitas kesehatan, pendidikan, pengurusan administrasi kependudukan (adminduk), moda transportasi, aliran listrik, jaringan telepon, hingga infrastruktur jalan.
“Bahkan dermaga Sabuntan ini adalah peninggalan nenek moyang, yang sampai sekarang belum pernah direnovasi. Untuk menyambung gorong-gorong dermaga pun masyarakat harus swadaya,” kata warga.
Sebagai bagian dari warga Sumenep, Jawa Timur, warga di Pulau Sabuntan merasa dianaktirikan. Jika di daerah lain pembangunan infrastruktur berjalan cepat, tidak dengan kawasan mereka. Jalanan utama penghubung antar desa masih berupa jalanan berbatu.
Selain infrastruktur, kelengkapan sarana pendidikan tak kalah memprihatinkan. Di daerah itu hanya ada dua pondok pesantren dan lembaga pendidikan SD sampai Madrasah Aliyah. Lembaga pendidikan di Pulau Sabuntan masih berkutat dengan izin operasional. Bahkan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menjadi ikon pemerintah tak pernah mereka dapatkan.
Duka warga Pulau Sabuntan makin komplit saat menunjukkan fasilitas kesehatan yang mereka miliki, yakni sebuah Polindes yang sangat tidak layak. Selain dibangun ala kadarnya, atapnya juga bocor. Saat musim hujan dan air pasang, pelayanan kesehatan harus menumpang rumah warga.
Melihat kondisi itu, Mathur berjanji akan menyampaikan hal itu kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Ia berharap gubernur bisa membuka mata hati untuk membantu warganya yang ada di kepulauan.
“Saya akan memutar video (dokumentasi Pulau Sabunten) ini ketika Rapat Paripurna DPRD Jawa Timur di hadapan Ibu Gubernur,” janji Mathur.
Penulis: Rusdi
Editor: HTW
Tonton video:
Comments 3