Bacaini.ID, JEMBER – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Jember sejak awal Januari hingga akhir Februari 2026 meninggalkan jejak kerusakan di berbagai sudut wilayah. Sedikitnya 27 titik infrastruktur terdampak bencana hidrometeorologi dan kini masuk daftar prioritas penanganan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember.
Kerusakan itu tersebar di tujuh kecamatan, didominasi longsor serta limpahan tanah akibat curah hujan berintensitas tinggi. BPBD mencatat, infrastruktur yang terdampak mulai dari dinding penahan tanah, jembatan, hingga jalan lingkungan warga.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jember, Anang Dwi Resdianto, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan dan evaluasi ulang untuk menentukan skala prioritas.
“Sejak rentetan bencana awal Januari sampai akhir Februari, kami menginventaris seluruh kerusakan infrastruktur kebencanaan. Mulai dari retaining wall, jembatan, sampai jalan warga kami evaluasi kembali,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026)
Menurut Anang, tidak semua titik bisa ditangani sekaligus. Infrastruktur yang menyangkut akses utama masyarakat menjadi perhatian pertama.
Salah satu yang dinilai mendesak berada di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa. Di wilayah itu, dinding penahan tanah mengalami kerusakan dan berpotensi mengganggu jalur vital warga.
“Di Kemuning Lor ada retaining wall yang harus segera direkonstruksi karena itu akses utama masyarakat,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di Dusun Sodong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti. Sebuah jembatan bambu yang dibangun pada 2019 hingga kini masih menjadi satu-satunya penghubung bagi sekitar 30 rumah. Struktur yang mulai lapuk membuat warga berharap adanya jembatan permanen.
Sementara di Dusun Glundengan, Desa Suci, bronjong kawat setinggi belasan meter yang dibangun tahun 2025 kini dalam kondisi mengkhawatirkan.
Tingginya intensitas hujan membuat konstruksi darurat tersebut rawan longsor dan berpotensi menyeret badan jalan.
Anang menjelaskan, sebagian besar kerusakan dipicu limpahan tanah dan pergerakan lereng akibat tekanan air hujan.
“Curah hujan dengan intensitas tinggi menambah tekanan lateral pada lereng, sehingga terjadi pergerakan dan runtuhan tanah,” jelasnya.
Dengan kondisi cuaca yang masih fluktuatif, potensi kerusakan susulan belum sepenuhnya tertutup. Karena itu, BPBD memilih memfokuskan sumber daya pada titik-titik yang sudah terdata sambil memperkuat deteksi dini di tingkat masyarakat.
“Yang sudah terinventaris kita prioritaskan dulu. Di sisi lain, ketahanan masyarakat juga perlu ditingkatkan agar bisa mendeteksi lebih awal titik-titik rawan,” ujar Anang.
Untuk mempercepat proses rekonstruksi, BPBD Jember menyiapkan desain teknis serta proposal pengajuan anggaran ke pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Langkah itu ditempuh karena sejumlah perbaikan membutuhkan pembiayaan besar yang melampaui kemampuan APBD.
“Kami siapkan desain dan proposal untuk diajukan ke BNPB maupun kementerian terkait. Harapannya ada dukungan anggaran pusat,” tegasnya.
Sejauh ini, penanganan yang sudah dilakukan lebih banyak menyasar kebutuhan paling mendesak, terutama pemulihan rumah warga terdampak. Adapun perbaikan infrastruktur skala besar dilakukan bertahap menyesuaikan kemampuan fiskal daerah.
BPBD pun mengingatkan warga di wilayah lereng dan daerah dengan sistem drainase kurang optimal untuk tetap waspada. Intensitas hujan yang belum stabil membuat potensi longsor dan kerusakan infrastruktur masih mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan.(meg/ADV)





